twitter


Pertambangan, satu kata yang kerap terdengar negatif dikalangan masyarakat terutama Indonesia. Menurut UU No. 4 Tahun 2009 yang dimaksud pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian, pengelolaan, dan pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pascatambang. Berdasarkan pengertian tersebut, pertambangan memiliki arti yang luas baik dalam segi ekonomi, ekologi dan sosial.
Indonesia sebagai negara berkembang memiliki beberapa perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan baik dalam pengolahan minyak maupun mineral dan batu bara. Jika kita telusuri lebih dalam, perusahaan pertambangan memang memiliki dampak negatif bagi lingkungan maupun kesehatan masyarakat itu sendiri. Namun, sebagai manusia yang memiliki etika kita tidak hanya melihat dari segi negatif saja, bagaimanapun perusahaan pertambangan memiliki peran penting dalam siklus hidup manusia. Melihat kembali dari sisi positif, pertambangan memberikan peran dalam pajak negara, seperti di Bolivia yang memiliki pajak tambang tertinggi di Amerika Latin yaitu sebesar 37% atas keuntungan mereka dan membayar royalti antara 5% sampai 7% disamping pajak-pajak lainnya. Sedangkan di Indonesia sendiri sebagai contohPT. Newmont Nusa Tenggara selama tahun 2011 telah membayar pajak, non-pajak, dan royalti kepada pemerintah Indonesia dengan total Rp 7,405 triliun, sungguh menjadi angka yang cukup besar. Selain itu, perusahaan pertambangan telah memberikan lapangan pekerjaan yang cukup luas bagi warga Indonesia dan memiliki peran penting dalam menyediakan bahan baku untuk industri yang hasil produksinya dimanfaatkan oleh masyarakat sendiri.
Jika melihat dari sisi negatif, dampak dari perusahaan pertambangan tentu ada seperti limbah hasil pertambangan yang dapat mencemari lingkungan dan berpengaruh terhadap kesehatan. Namun, sejelek-jeleknya perusahaan pertambangan pasti memiliki aturan dan standar tersendiri dalam pengelolaan limbah sehingga dapat mengurangi dampak pencemaran yang ditimbulkan. Bahkan setiap perusahaan biasanya memiliki tanggung jawab sosial perusahaan atau yang biasa disebut dengan CSR. CSR memiliki peran penting dalam menjaga hubungan antara masyarakat dan perusahaan dalam peningkatan kesejahteraan melalui tindakan sosial dan peduli terhadap lingkungan yang terkait pada hubungan pemangku kepentingan perusahaan.Namun, sejak awal tahun 1990-an sampai sekarang isu-isu tanggung jawab perusahaan (CSR), termasuk kewajiban sosial perusahaan, masih menonjol dalam perdebatan politik dan bisnis. Hal ini terutama dalam menanggapi pembangunan yang berpusat hanya pada paradigma pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, tetapi kurang memperhatikan keseimbangan antara ekonomi dengan kesejahteraan masyarakat dan kohesi sosial. Untuk mereduksi paradigma tersebut dimata publik, perlu diadakannya perbaikan maupun peningkatan program CSR suatu perusahaan.
Perbaikan program CSR dalam menyeimbangkan kegiatan ekonomi dan kohesi sosial dapat dilakukan dengan pembaharuan di beberapa bidang seperti peningkatan transparansi dan tata kelola yang bertujuan untuk membangun kembali kepercayaan publik dan meyakinkan investormemberikan nilai sosial yang lebih luas, termasuk dukungan untuk kesehatan, perbaikan hak asasi manusia dan perlindungan lingkungan;berkontribusi terhadap pembangunan daerah dan kemitraan global untuk pembangunan berkelanjutan, serta menangani secara seimbang keprihatinan para pemangku kepentingan utama mereka.
1389673825404385029
Program Reklamasi Tambang PT Newmont Nusa Tenggara
Adanya peningkatan CSR dari perusahaan dan kerjasama antara masyarakat dengan perusahaan menjadi salah satu contoh pintu masuk membangun keterpaduan bisnis berkelanjutan yang mempertimbangkan kepentingan generasi masa depan,keanekaragaman hayati, perlindungan hewan, hak asasi manusia, dampak terhadap siklus hidup, dan prinsip-prinsip seperti keadilan, akuntabilitas, transparansi, keterbukaan, pendidikan dan pembelajaran, serta tindakan berskala. Kini bola ada ditangan perusahaan dan masyarakat, upaya keberlanjutan bisnis tergantung dari jawaban atas pertanyaan : apakah kita sebagai manusia masih hanya memandang sebelah mata atas keberlanjutan bisnis dan kesejahteraan masyarakat?




Pagi itu mentari memancar terang, sinarnya yang keemasan menyepuh genting dan pepohonan, angin bertiup sepoi-sepoi membelai rambutnya yang terurai panjang, langit cerah, hawa sejuk perlahan merasuk kedalam relung hatinya, ia duduk di bawah pohon yang rindang, melipatkan kedua kakinya yang mungil dan meletakan dagunya pada kedua lututnya yang hitam, matanya terus memandangi segerombolan mahasiswa yang sedang bercandaria.
Ah, bahagia sekali mereka” ujarnya dalam hati.
Wulan, mahasiswi fakultas kedokteran hewan yang kuliah di Institut Pertanian Bogor, berada jauh dari keluarganya untuk menggapai sebuah mimpi menjadi seorang dokter yang ingin mengubah desanya menjadi desa yang maju  tanpa keterbelakangan pendidikan.
Matanya terus memperhatikan mahasiswa yang lalu lalang, sampai ia tidak melihat sosok gadis yang ada disampingnya.
Hey, kau sedang apa disini”.? Suara yang begitu lembut tapi mengagetkan Wulan.
Ah Vina, kau sungguh mengagetkanku” jawab Wulan.
Maaf Lan, aku tidak bermaksud mengagetkanmu, aku heran saja kenapa kau duduk disini sendirian? Kau sedang melihat apa?”.
Ohh, tidak, aku hanya duduk saja” jawabnya singkat
Duduk apa melamun”?
Dua-duanya, ayo kita masuk, sebentar lagi kita ada kelas bukan”? ajak Wulan sambil berusaha berdiri
Yaudah yuk” balas Vina.
Wulan sangat beruntung memiliki sahabat seperti Vina, meskipun cantik ia tidak sombong seperti teman-temannya yang lain, satu hal lagi yang ia sukai dari Vina, Vina mengerti sikap Wulan, bagi Wulan, Vina bukan hanya sekedar sahabat tapi ia seperti kakak untuk Wulan, ia selalu membantunya jika dalam masalah, hal itulah yang mambuat ia betah hidup di tengah derasnya kehidupan kota.
Saat di kelas pun pikiran Wulan kembali melayang, kali ini pandangannya ia arahkan keluar jendela melihat burung-burung kecil yang sedang terbang dengan bebas, ia ingin sekali seperti burung itu yang memiliki sayap, sehingga kala ia rindu kepada ibunya, ia bisa dengan cepat menemui ibunya. Wulan tersadar dari lamunannya saat suasana kelas menjadi gaduh, ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi yang ia dengar namanya disebut-sebut oleh seorang Dosen.
“ Wulandari Sukma Asti” panggil seorang dosen.
Wulan masih terpaku dengan lamunannya, ia tidak menyadari namanya telah dipanggil berkali-kali.
“ Lan, kamu dipanggil bu Dina” ucap Vina pada Wulan.
“Ah, ada apa Vin?”
“Kamu dipanggil bu Dina!, kamu kenapa Lan? Kenapa kamu melamun terus dari tadi? Apa ada hal yang mengganggu pikiranmu?”
“Ah, iya bu. Saya Wulan” jawab wulan mengalihkan pertanyaan dari Vina.
“Sekarang ikut saya keruang bu Katrin” perintah bu Dina.
“Baiklah bu” jawab Wulan singkat.
Sesampainya didepan ruangan bu Katrin, perasaan Wulan mendadak gelisah, hatinya tidak menentu dan rasa cemas mennjalar keseluruh tubuhnya. Entah kenapa, tangannya begitu kaku untuk memegang gagang pintu.
“Bismillah” ucapnya dalam hati.
“Masuklah Wulan dan duduklah” ucap bu Katrin ketika melihat Wulan berada di ambang pintu.
“Ada apa Ibu memanggil saya bu” ucap Wulan gugup.
“Sebelumnya, jangan bersedih. Ibu baru mendapatkan kabar dari Ibu mu, bahwa ayahmu telah berpulang KepadaNya.”
Sakit….
Seperti ada belati menghujam ke ulu hatinya
Perih…
Seolah ada paku berkarat tertancap di batok kepalanya, tulang belulangnya terasa ngilu bagaikan di remuk-remuk dengan palu godam, dan langit seakan-akan runtuh menimpa dirinya, dadanya terasa sesak dan ia hampir meneteskan air matanya, untung saja Wulan masih memiliki secuil kekuatan untuk mengendalikan dirinya, kalau tidak, mungkin saat ia menangis, teman disebelahnya yang bakal frustasi karena mendapatkan banyak pertanyaan.
“ Wulan, ada apa lan?” tanya Vina sambil mengatur jalan nafasnya.
Serta merta Wulan merangkul Vina, menangis tersedu-sedu dan menceritakan perihal tentang ayahnya, tanpa ragu lagi Vina mengantar Wulan pulang kekampung halamannya. Mereka menaiki sebuah kereta diiringi hujan yang sangat deras, di dalam kereta mereka hanya diam membisu tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka yang ada hanya kesunyian dan keheningan.
Saat kereta yang membawa mereka berhenti, hujan turun masih sangat deras, mendung masih menyelimuti hati mereka dan waktu telah menunjukan pukul 04.00 WIB. Wulan tergesa-gesa mencari angkot yang menuju rumahnya, ia tak sabar lagi untuk melihat wajah ayahnya untuk yang terakhir kali.
Lan, ada baiknya jika kita tunggu sampai adzan subuh dulu, barulah kita lanjutkan perjalanan”. Ucap Vina membuyarkan keheningan
Tapi Vin,aku ingin melihat ayah, aku ingin melihat wajahnya yang teduh untuk yang terakhir kalinya Vin” jawab Wulan dengan suara sedikit gemetaran.
Iya, aku tahu Lan, tapi akan lebih baik jika kita lanjutkan setelah shalat subuh dulu.
Tak lama kemudian adzan subuh berkumandang, Vina mengajak Wulan untuk shalat terlebih dahulu dan menumpahkan segala kesedihan kepadaNya, setelah itu mereka berganti pakaian dan melanjutkan perjalanan.
Sesampainya dirumah, ibunya menyambut Wulan dengan tangisan saat ditunjukan keadaan ayahnya dengan mata tertutup, terlihat sekali kesedihan dimata Wulan, ia mencium dahi ayahnya untuk yang terakhir kali, Wulan berusaha untuk menabahkan diri tapi ia tidak dapat lagi menahan tangisnya, ia merangkul tubuh ayahnya, menangis tersedu-sedu meminta ayahnya untuk hidup kembali.
Mendung  pagi hari masih menyisakan lara di hati Wulan, ia tak pernah menyangka betapa cepat ayahnya pergi, disaat ia membutuhkan dukungan dari kedua orang tuanya. Seminggu telah berlalu, Wulan masih memikirkan kepergian ayahnya, saat vina mengajaknya kembali ke Jakarta ia menolak dengan alasan ingin menemani adik dan ibunya di rumah.
Aku ingin disini saja Vin, aku ingin bekerja membantu ibu membiayai sekolah dede Vin”.
Iya Lan, tapi bagaimana dengan kuliahmu?”
Tapi Vin, apa kamu tega melihat ibuku bekerja sendiri membiayai…..
Wulan tak melanjutkan perkataannya, karena ia melihat ibunya datang menghampiri.
Sudahlah nak, ibu dan adikmu disini tidak apa-apa, pergilah nak tamatkan kuliahmu dan jadilah orang sukses seperti apa yang kamu inginkan” bujuk ibunya meyakinkan Wulan.
Tapi bu, Wulan pengin disini membantu ibu”
Tidak usah nak, ibu masih sanggup untuk membiayai sekolah adikmu, sekarang kamu pergilah dan tamatkan kuliah mu”
 Akhirnya dengan hati berat Wulan kembali ke Jakarta bersama Vina, sesampainya disana Wulan lebih banyak diam, hari-harinya tak seceria dulu, ia lebih sering menyendiri dan melamun, kepergian ayahnya banyak memberikan perubahan pada diri Wulan. Saat Wulan terkonsentrasi pada bukunya, suara orang tua separuh baya mengejutkannya, ia tersadar dan langsung menutup buku yang ia baca, entah ada berita apa lagi paman Wulan mengunjunginya.
Paman, silahkan duduk paman, tumben paman mampir kekostan Wulan,ada apa paman?”

Pamannya tidak segera menjawab pertanyaan Wulan, ia memikirkan bagaimana nasib Wulan nantinya.
Paman kenapa?”
Lan, sebelumnya paman minta maaf sekali, paman tidak bias lagi membiayaimu kuliah, saat ini keadaan ekonomi paman sangat kritis, usaha paman sudah mulai bangkrut lan, sekarang saja paman dan keluarga sudah pindah kerumah yang lebih kecil, maafkan paman yah lan tidak bisa menamatkan kuliahmu.
Mendengar semua itu, hati Wulan terasa miris, malang sekali nasibnya, sekarang ia harus menamatkan kuliahnya sendiri.
Tidak apa-apa paman, seharusnya Wulan yang berterimakasih karena telah membiayai Wulan selama dua tahun lebih, terimakasih paman untuk semuanya” dengan suara getir menahan pedih Wulan menjawabnya.
Tapi Lan, bagaimana dengan kuliahmu, paman sangat minta maaf dulu menawarkan kuliah kepadamu, tapi sekarang paman tidak dapat lagi membiayaimu”
Tidak apa-apa paman, paman tidak usah khawatir, Allah maha kaya paman, insya Allah Wulan sanggup menamatkannya sendiri, yang Wulan butuhkan sekarang doa dan dukungan dari paman”
Iya lan, insya Allah paman doakan, kamu orang yang baik lan, pasti Allah akan selalu bersamamu”
Terimakasih paman, ngomong-ngomong paman sekarang pindah dimana?”
Paman sekarang pindah di kompleks perumahan sederhana, tidak jauh dari kampus kamu, kalau kamu sempat mainlah, bibi pasti senang”.
Iya insya Allah paman.
Malamnya Wulan tidak bisa tidur, ia terus memikirkan bagaimana caranya ia mendapatkan uang untuk biaya kuliahnya, sedangkan gaji yang ia dapatkan dari bekerja sebagai pelayan di sebuah toko sepatu hanya cukup untuk membiayai hidupnya, ia merebahkan tubuhnya di atas kasur, melihat indahnya sinar bulan di balik jendela, begitu terang, sinarnya yang keperakan memancar menembus jendela kamar Wulan.
Ya Allah, aku tahu Engkau maha kaya, Engkau yang menciptakan bumi dan langit, Engkau juga mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi di bumi ini, aku serahkan semunya kepadamu ya Allah” Doa Wulan didalam hati, sambil berusaha memejamkan matanya. Pukul 03.00 pagi, Wulan terbangun, ia kemudian mengambil air wudhu untuk shalat tahajud, dan menggelar sajadah biru pemberian ibunya, rakaat pertama Wulan begitu khusuk saat membaca surat Al-baqarah, rakaat kedua air matanya menetes membasahi pipinya yang mungil, ia tumpahkan segala kesedihannya di dalam sujud, ia tahu bahwa Allah pemilik segalanya.
Hari demi hari telah berlalu, Wulan bekerja keras untuk membiayai kuliahnya sendiri, waktu libur yang harusnya ia gunakan untuk istirahat, ia gunakan intuk bekerja, ia tak pernah lupa untuk puasa hari senin dan kamis, tubuhnya yang kuruspun kini semakin kurus, setelah satu tahun berlalu akhirnya Wulan berhasil melewati skripsi dan sekarang ia hanya menunggu saat ia di wisuda. Saat hari wisuda tiba, ibu dan adik Wulan datang untuk melihat dan mengucapkan selamat kepadanya, sinar kebahagiaan terpancar dari wajah Wulan, pipinya yang mungil merona merah saat ibunya memuji kegigihannya. Setelah selesai wisuda, Wulan ingin menemui Vina yang tengah berbincang dengan Mitha diseberang jalan, saat Wulan berlari menyeberangi jalan, ia lengah tidak melihat mobil jip berwarna silver yang melaju kencang menuju arahnya,  dan seketika itu,.
“BRAAKKKK” Wulan tertabrak, tubuhnya terpental sejauh 6 meter dari tempat kejadian.
Wulaaaannn” Ibunya berlari menghampiri tubuh Wulan yang berlumuran darah, isak tangis terus terdengar dari ibunya, dan segera mungkin ibunya membawa Wulan kerumah sakit. Saat tersadar, Wulan mendapati dirinya tengah berada di rumah sakit.
“Ibu, Wulan ada dimana bu”? tanya Wulan dengan suara lirih dan terbata-bata.
Kamu ada di rumah sakit sayang” jawab ibunya masih terisak.
Ibu, ada yang mendekat, ia tersenyum bu”
Tidak nak, kamu akan baik-baik saja, disini ada ibu”
Bu, tuntun Wulan membaca syahadat”
Dengan berat hati ibunya menuntun Wulan membaca kalimat syahadat,
“Asyhadu ala ila hailallah, waasyhadu ana muhammada rosululloh.” Perlahan suaranya mulai menghilang, tangannya terasa dingin, dan Wulan menghembuskan nafas untuk yang terakhir kalinya dengan keadaan khusnul khotimah, ibunya menangis menatapi kepergian Wulan, ia mencium dahi anak kesayangannya diiringi derasnya air mata. Vina tak dapat lagi menahan tangisnya, ia menangis sejadi-jadinya, ia kehilangan seorang sahabat yang begitu berarti, begitu hebat dan begitu sabar. Adiknya yang masih duduk di bangku SD menangis sambil merangkul tubuh ibunya, ia tahu kalau Wulan pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya, tak ada lagi yang mengajarinya belajar, tak ada lagi yang membantunya membuat kerajinan tangan, dan tak ada lagi sosok kakak yang selalu menghiburnya jika dalam kesedihan. Ia terisak dalam rangkulan ibunya.
Gerimis pagi hari menghantarkan kepergian Wulan, Adzan subuh berkumandang menghempaskan mimpi-mimpinya. Burung-burung masih berkicau seperti biasa,embun pagi membasahi rerumputan dan daun-daun seakan menyerahkan hijaunya pada musim.

 Allah telah merencanakan yang terbaik untuk umatNya, begitupun dengan Wulan, ia berusaha dengan keras untuk bisa menggapai cita-citanya, tapi Tuhan pun berkehendak lain.



Dear  ibu,
Bu, apa kabarmu? Semoga kau disana baik-baik saja. Putrimu pun disini dalam keadaan baik. Bu, aku sangat merindukanmu.
Bu, tanpa terasa waktu terus berlalu, musim terus berganti, dan sekarang usiaku sudah 18 tahun, tapi di usia sebesar ini, tak pernah terfikir oleh ku untuk mengucapkan kata sayang pada ibu dan ayah. Bu, ingin sekali ku menangis dipangkuanmu, meminta maaf atas segala kesalahan-kesalahan yang selama ini aku buat, dan mengatakan aku sangat mencintaimu.
Ketika aku masih kecil sampai usiaku 18 tahun, aku masih saja egois, masih selalu mementingkan diri sendiri tanpa mau memikirkan keadaan ibu. Masih teringat jelas di dalam benakku saat aku merengek-rengek meminta ibu membelikanku handphone, tetapi ibu tidak dapat memenuhi keinginanku, aku langsung membanting pintu kamarku dan mengurung diri dikamar. Namun, dengan penuh sabar dan kelembutan engkau merayuku, membujukku agar aku mau mengerti, tapi saat itu aku tak pernah peduli, yang aku inginkan saat itu adalah ibu mau memenuhi keinginanku.
Saat ibu sibuk dengan dagangan ibu, aku jarang membantu ibu, tapi ibu tak pernah mengeluh sedikitpun, meski dalam keadaan sakit,  ibu terus mencari uang untuk membiayai ku sekolah, engkau tak pernah peduli dengan dirimu sendiri, kau mati-matian banting tulang untuk membiayaiku sekolah, sampai tubuhmu menjadi kuruspun kau tak pernah peduli, yang kau pedulikan hanya aku dan kebahagiaanku. Sudah berapa banyak kesalahan yang aku lakukan, tetapi ibu terus menyayangiku dan menuruti apa yang aku minta. Ibu, masihkah ada kata maaf untuk putrimu, putri yang selama ini sering mengabaikan nasihat-nasihat mu, putri yang tak pantas dianggap sebagai anakmu, seorang ibu yang begitu mulia, yang tak pernah letih untuk membahagiakanku dan selalu tersenyum meski sebenarnya hatinya menangis. Maafkan aku bu.
Saat aku sakit, engkau merawatku dengan penuh kasih sayang dan kelembutan, saat aku enggan untuk makan, engkau dengan sabar membujukku dan menyuapiku, dan saat aku enggan untuk bangun dari tidurku engkau terus berusaha membangunkanku dengan rasa cintamu yang begitu besar kepadaku. Tapi saat ibu sakit, aku tak bisa merawat ibu dengan baik seperti yang ibu lakukan padaku, ingin rasanya aku memaki diriku sendiri bu, kenapa aku begitu tak berguna untuk ibu, kenapa selama ini aku tak menyadari cintamu begitu besar untukku.
Ibu, masih bisakah kita untuk terus bersama?, masih bisakah kita untuk saling tertawa?, dan masih bisakah kita untuk saling menyayangi? Aku takut bu, aku takut tak bisa membahagiakanmu, aku takut hanya akan menyusahkanmu, dan aku takut tak bisa membalas budimu bu. Selama ini sudah begitu banyak yang kau berikan kepadaku, tetapi aku belum bisa membalas kebaikan ibu. Aku janji bu, suatu saat nanti aku pasti akan membahagiakan ibu, merawat ibu dengan baik, mencintai ibu seperti ibu mencintaiku.
Ibu, ku tulis surat ini dengan air mata dan hatiku, sebagai tanda aku sangat mencintaimu, dan aku sangat merindukanmu. Saat aku jauh darimu, rindu ini begitu terasa menggebu di dalam kalbuku, mengalir dalam darahku dan selalu ada disetiap hembusan nafasku. Bu, aku ingin ibu selalu ada disetiap langkahku, menemani disetiap lembaran cerita hidupku, dan selalu menghiasi hari-hariku dengan doa-doa mu. Bu, andai aku bisa mengukir namamu dengan air mataku, akan ku buat menara air sketsa wajahmu, agar setiap saat aku bisa melihat wajah ibu yang begitu teduh dihiasi dengan senyum keikhlasan. Andai aku punya sayap, aku ingin terbang menemuimu dan saat aku bersamamu, akan ku patahkan sayap itu agar aku tak bisa lagi pergi jauh darimu, I miss u mom, rinduku padamu takan pernah berhenti.
Putrimu,




“ Ibu, aku ingin kuliah”.
Itulah kata pertama yang aku ucapkan padanya ketika kami sedang menyantap makan malam yang ibu sediakan tadi siang. Sejenak terasa hening, ibu masih bergelut dengan makanan yang ada dihadapannya.
“Ibu, aku ingin kuliah” ulangku lagi ketika ibu tak kunjung menjawab. Lalu aku melihat ibu meletakan sendok dan membawa piring yang masih berisi makanan dan meletakannya di dapur kemudian menghampiriku.
“Nak, apa kau yakin ingin kuliah?” jawab ibu sederhana sambil memandang ke arahku. Yah, itu kata-kata paling sederhana yang mungkin bisa dijawab oleh semua orang, tetapi tidak denganku. Ketika ibu mengatakan hal tersebut satu hal yang terlintas didalam pikiranku adalah “sanggupkah aku melukai hati ibu? apakah pertanyaanku sudah membuatmu kehilangan nafsu makan bu? sampai kau tidak sanggup untuk menghabiskan makananmu.”
Aku menyadari keadaan ekonomi kami tidak memungkinkan untuk aku melanjutkan kuliah, karena ayahku sudah tidak bekerja, tetapi aku bersyukur karena aku telah memiliki sosok seorang ibu yang luar biasa! Yang rela mengorbankan apapun untuk kebahagiaan anaknya sehingga membuatku merasa menjadi anak yang paling beruntung di dunia ini karena telah dilahirkan olehnya. Aku anak ketiga dari tiga bersaudara, dan dua saudaraku sudah berumah tangga dan memiliki seorang anak. Hanya ada ibu, ayah dan aku yang sekarang menempati rumah tua itu.
Ibuku bukan seorang yang berpendidikan tinggi, bahkan bukan seorang yang memiliki harta yang melimpah, tapi ibuku seorang yang memiliki pengetahuan luas untuk membahagiakan orang disekitarnya dan memiliki cinta yang melebihi harta katun untuk anaknya. Hal itu ditunjukannya padaku ketika aku bisa meraih impianku karena do’a seorang ibu. Ketika aku masih duduk dibangku SMA, ibu banting tulang untuk membiayai sekolahku, setiap dini hari pukul 02.00 WIB, ibu sudah bergelut dengan asap dapur untuk membuat gorengan yang paginya ibu jual kepada tetangga, kemudian pukul 07.00 WIB ibu pergi ke pasar untuk membeli keperluan warung kami dan siangnya ibu masih menyempatkan diri untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri sekaligus ibu dengan memasak makanan untuk kami, ketika itu aku selalu berfikir aku ingin menjadi sosok seperti ibuku, ibu yang luar biasa.
Waktu terus berjalan, sehingga aku sudah menamatkan pendidikanku ditingkat SMA, saat itu usia ibuku semakin tua tetapi ia masih melakukan aktifitas seperti biasa, saat itupun aku mngurungkan niatku untuk melanjutkan kuliah dengan melihat keadaan ibu seperti ini tetapi hatiku terasa miris ketika melihat teman-temanku sudah siap untuk melanjutkan kuliah. Sempat aku mengurung diri dikamar karena perasaanku yang membenci keadaan hidupku saat itu, kenapa Tuhan tidak memberikan aku kehidupan yang lebih daripada saat itu dan kenapa Tuhan membiarkan aku menggantungkan mimpi-mimpiku seperti itu?.
Ibu mengetuk pintu kamarku berkali-kali, tetapi aku tidak mempedulikannya bahkan aku tidak menjawab ketika ibu menyuruhku untuk membukakan pintu.
“Nak, kamu kenapa? Sudah seharian kamu mengurung diri dikamar” aku tidak menghiraukan pertanyaan ibu dan terus menutup kupingku dengan bantal.
“Nak, ibu masak makanan kesukaanmu, apa kau tidak lapar? Nanti bisa sakit kalau tidak makan hari ini” gumam ibu sambil terus mengetuk pintu kamarku.
“Pergi bu, aku tidak lapar!” jawabku sedikit berteriak.
Aku masih membenamkan tubuhku dikamar sampai pukul 22.30 WIB, aku tidak mendengar lagi suara ibu mengetuk pintu kamar “ah mungkin ibu sudah tidur” pikirku dalam hati. Aku bangkit dari tempat tidurku karena perutku terasa lapar, sudah seharian ini aku tidak makan. Saat aku membuka pintu, aku terkejut, hatiku terasa perih ketika melihat ibu tertidur disamping pintu kamarku dengan kupasan buah mangga disampingnya. Aku melihat betapa ringkihnya tubuh ibu saat itu, “maafkan aku ibu” gumamku dalam hati dengan air mata yang hampir menetes di pipi, sejak saat itu aku memutuskan untuk bekerja setelah lulus SMA agar aku bisa membantu ibu.
Saat itu ayahku sedang tidak ada dirumah, hanya tinggal aku dan ibuku yang berada dirumah, sedangkan kedua kakakku telah berumah tangga. Aku mengambil piring yang berisi kupasan mangga dan meletakannya dikamarku dan seketika itu ibu terbangun.
“Kau sudah makan nak?” tanya ibu. Aku masih belum bisa menjawab, entah kenapa rasanya lidahku tiba-tiba menjadi kaku, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat itu, aku hanya bisa menundukan kepalaku tanpa berani untuk memandang ibu.
“ Apa kau masih marah sama ibu nak? Apa kau benar-benar ingin kuliah?”
“Tidak bu, aku tidak akan menginginkan itu lagi”
“Tapi nak, matamu berkata lain, ibu tau kau menginginkan melanjutkan kuliah. Jangan berbohong dengan ibu nak!”
“Maaf kan aku ibu, aku terlalu egois hanya mementingkan diri sendiri. Sungguh bu, aku tidak pernah marah dengan ibu, aku hanya benci dengan keadaan kita yang seperti ini!” jawabku dengan suara parau.
“Apa yang kau sesali nak? Apa kau membenci dilahirkan menjadi anak ibu? Sehingga kau bisa berkata seperti itu? Demi Allah! ibu sangat menyayangimu nak, ibu sangat mencintaimu.”
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi saat itu, aku hanya bisa menghambur kedalam pelukan ibu, sebenarnya apa yang aku inginkan saat itu? Aku sendiri tidak begitu yakin untuk hal itu.
“Ini nak, ini untukmu” ibu menjulurkan satu buntel uang dari kantung bajunya.
“Untuk apa ini bu? Dan dari mana uang ini bu?”
“Ini uang yang kakakmu kirimkan untuk pengobatan ibu, tapi ibu menyisihkannya sebagian. Awalnya uang ini ingin ibu tabung sedikit demi sedikit untuk berangkat haji, tapi ibu yakin, kau sangat membutuhkan uang ini.”
Aku mengulurkan tanganku untuk mengambil uang itu, yah uang itu berjumlah Rp 500.000 jumlah yang mungkin cukup sedikit untuk biaya pergi haji, tapi ibuku, dia sangat berbeda, dia tidak pernah menyerah untuk apa yang telah menjadi niatnya yaitu menyempurnakan ibadahnya kepada sang Pencipta.
“Tidak bu, aku tidak bisa menerima ini. Ibu simpan saja uang ini, ini uang dari kakak buat ibu” jawabku.
“Tapi nak, bagaimana dengan kuliahmu?”
“Aku akan baik-baik saja bu, aku akan bekerja setelah lulus SMA dengan begitu aku bisa membantu ibu untuk melunasi hutang-hutang dan menabung untuk berangkat haji. Satu lagi, aku sangat mencintai ibu, karena ibu tidak pernah kehilangan kesabaran denganku.”
Ibu tersenyum mendengar perkataanku dan ia langsung memelukku. Keesokan harinya, semua siswa kelas 3 yang ingin melanjutkan kuliah harus melakukan pendaftaran secara online, aku hanya bisa berdiam diri dan duduk didalam kelas sementara yang lain menuju laboratorium komputer.
“Fit, kamu tidak mendaftar kuliah?” suara itu tiba-tiba mengagetkanku.
“Oh, ibu Nur. Tidak bu, saya tidak berencana menndaftar kuliah” jawabku.
“kenapa tidak? Kamu pandai dan nilaimu bagus, terlebih sekarang sudah ada beasiswa yang memberikan biaya kuliah sampai kamu wisuda.”
“Benarkah bu?” jawabku tidak percaya.
“Benar fit, tapi kamu harus membayar biaya pendaftaran terlebih dahulu. Tapi, biaya itu nanti akan kembali ke kamu ketika kamu sudah diterima.”
Sejenak aku berfikir, tidak salahnya aku mencoba. Lalu bagaimana dengan biaya pendaftaran? Dari mana uang itu bisa aku dapatkan? Pertanyaan-pertanyaan itu yang selalu berkecamuk dipikiranku. Ketika aku masih berfikir tentang biaya pendaftaran, tiba-tiba fani datang menghampiriku, dia menyodorkan beberapa uang lima puluhan ribu padaku.
“Untuk apa ini fan?” Tanyaku heran.
“Pakai uang ini untuk mendaftar kuliah, aku yakin kamu sangat membutuhkannya”.
Akhirnya aku memutuskan untuk meminjam uang dari Fani, yah suatu saat aku berjanji untuk mengembalikannya. Hingga tiba saatnya pengumuman itu datang, aku diterima di universitas yang aku impikan dan mendapatkan beasiswa yang aku inginkan. Mendengar hal itu, ibu sangat bahagia, sampai ia bersujud syukur atas berkahNya yang diberikan kepadaku. Namun, meskipun aku telah menerima beasiswa, aku harus membiayai perjalananku menuju tempat kuliah dan biaya hidup disana sampai beasiswa yang aku dapatkan turun. Ibu berusaha untuk mendapatkan biaya hidupku dari mulai meminjam ke saudara (karena saat itu kedua kakaku tidak menyetujui aku untuk kuliah) sampai ibu rela menjual sawah yang hanya tinggal berapa meter pada tetangga demi impianku, anaknya.  Akhirnya dengan segala macam usaha, ibu mendapatkan uang untuk membiayaiku pergi menuntut ilmu. Hatiku terasa berat ketika harus berpamitan kepada ibu, aku tidak pernah berfikir sebelumnya jika harus jauh dari ibuku.
“Fan, aku pergi dulu. Hutangku akan segera aku bayar” ucapku kepada Fani.
“Kau tidak perlu mengembalikan uang itu fit, karena sebenarnya uang itu adalah uang yang ibumu titipkan padaku. Beliau yakin bahwa suatu saat kamu akan membutuhkan uang itu, hanya saja kamu terlalu enggan untuk menerima uang itu dari ibumu secara langsung” jawab Fani.
Rasanya seperti ada batu besar yang menimpa tubuhku saat itu, lidahku kaku dan kakiku terasa gemetar. “ Tuhan, betapa Engkau baik kepadaku karena telah memberikan seorang ibu yang luar biasa, ibu yang paling baik di dunia ini” gumamku dalam hati. Seketika itu, aku langsung berlari memeluk ibuku, menangis tersedu-sedu.
“Ibu, maafkan aku, maafkan atas semua kesalahanku, keegoisanku dan kenakalanku selama ini bu” ucapku dengan tetesan air mata di pipi.
“Tidak nak, kau tidak perlu minta maaf. Ibu yang seharusnya minta maaf karena belum bisa memberikan secara sepenuhnya apa yang kau inginkan”
“Ibu adalah hal yang paling sempurna dalam hidupku, ibu adalah hal terindah yang pernah aku dapat selama hidupku dan jika aku harus menjalani hidupku lagi, aku akan tetap memilih dilahirkan sebagai anak ibu” jawabku sambil terus menangis.
“Tidak nak, ibu yang sangat beruntung memiliki anak sepertimu.”
Setelah itu, aku memutuskan untuk pergi menuntut ilmu, meraih mimpi-mimpiku dan membahagiakan kedua orang tuaku.

Teman, jangan pernah mengecewakan hati seorang ibu, karena ibu kita bisa menjadi dewasa, tertawa dan bahagia. Ibu yang mengajarkan kita banyak hal dengan penuh cinta dan kesabaran, sudah sepantasnya kita mencintai ibu kita dengan sepenuh hati. Terimakasih ibu, karena telah menjadi ibu terbaik di Dunia ini untukku. Aku mencintaimu. 



Hiu, dia seperti hiu yang menawan dengan berbagai atraksi yang ia perlihatkan. saat itu, pertama kali aku melihatnya, aku merasa telah mengenalnya sejak lama meski aku baru melihatnya. Dia berbeda, aku seperti melihat cerminan diriku padanya, matanya yang sendu, seakan menunjukan ada kesedihan yang mendalam disana, saat dia tersenyum menunjukan terdapat lubang besar dihatinya seperti luka yang pernah aku rasakan. Aku tidak pernah berharap pertemuanku dengannya akan berlanjut, aku hanya menganggap pertemuanku dengannya hanyalah sebuah kebetulan, tapi Tuhan berkata lain. Tuhan mempertemukanku dengannya lagi dalam sebuah acara, dan ketika itu aku mendengarnya mensenandungkan sebuah lagu. “Indah” itu kata-kata pertama yang aku ucapkan ketika mendengar lagu itu, entah kenapa aku merasakan sesuatu yang berbeda, benarkah aku menyukainya? Aku menyukainya ketika pertama kali aku melihatnya, aku menyukai caranya melihatku, aku menyukai caranya tersenyum dan berbicara kepadaku seolah membuatku menjadi seorang gadis yang paling berarti dimatanya. “Yah, aku menyukai segala apa yang ada didalam dirinya, dia orang pertama yang membuat jantungku berdetak dua kali lebih cepat ketika aku melihatnya, dia orang pertama yang membuatku tersenyum ketika kesedihan menerpa hatiku, tapi dia satu-satunya orang yang tidak pernah bisa aku dapatkan dalam hidupku. Suatu ketika, aku mengundangnya di sebuah acara sebagai tamu undangan, entah kegilaan apa yang aku lakukan saat itu, dengan segala cara aku berusaha mendekatinya, bahkan jika itu sedikit menepis harga diriku. Mungkin saat itu aku telah kehilangan akal sehatku karenanya, karena aku mencintainya.
Dalam acara tersebut dia memperagakan sebuah sulap. Yah, selain jago bernyanyi, dia juga jago bermain sulap dan bigbox, ketika dia sedang mempersiapkan sulapnya, aku berusaha mendekatinya dan mencoba untuk berbicara padanya, saat itu aku menuliskan inisial huruf “Y dan D” inisial huruf itu menunjukan namaku dan namanya “Yola dan Dani”.
“Akan bagus kalau dikertas ini aku menuliskan huruf Y dan D, bagamana menurutmu Dan?” aku bertanya padanya sambil melihatnya mempersiapkan pertunjukan.
“Tidak juga, aku lebih suka jika disini tertulis huruf “H dan D” jawabnya singkat. Saat itu aku mulai mengerti, usahaku selama ini untuk mendekatinya, caraku untuk mendapatkan cintanya tidak pernah bisa menggantikan seseorang yang ada didalam hatinya. Dia mencintai orang lain dan dia sangat mencintai gadis itu, hingga dia rela melepaskan gadis itu ke genggaman laki-laki lain, tapi dia masih menyimpan nama gadis itu selama dia masih bernafas dan aku, aku hanyalah seseorang yang mencoba untuk masuk ke dalam hatinya tanpa tahu hatinya telah menjadi milik orang lain. Dunia nya dan dunia ku sungguh berbeda, bagaimanapun caranya aku tidak pernah bisa masuk dalam dunianya, dan dia tidak pernah bisa masuk dalam duniaku. Suatu ketika, aku tidak bisa menahan perasaanku padanya, aku selalu memaksa bahwa dia bisa mencintaiku.
“Walaupun aku tidak sanggup untuk menceritakannya padamu, tetapi aku telah jatuh cinta padamu sejak pertama kali aku melihatmu, meski aku tau kehadiranmu dalam hidupku hanya membuatku dalam kesedihan, tetapi aku mencintaimu” aku mengatakan hal ini padanya.
“Maaf jika selama ini aku bersalah padamu dalam hal sikap maupun tindakan, yang ingin aku lakukan saat ini hanya berusaha memperbaiki diri, kuliah, kerja dan membahagiakan orang tua, untuk masalah cinta, aku tidak ingin memikirkannya dulu “ jawabnya padaku.

Sejak saat itu aku menyadari, aku tidak bisa memaksa seseorang untuk mencintaiku, ketika aku benar-benar mencintai seseorang, dari lubuk hati yang paling dalam, aku akan mendo’akan dia bahagia meski bukan denganku, meski entah sampai kapan aku bisa menatapnya tanpa merasakan perasaan setiap kali aku melihatnya dan sekarang aku seperti sebuah mermaid yang mencintai hiu yang hanya bisa tinggal didekatnya dengan kesedihan karena aku mencintainya. 


Malam semakin sunyi, jalananpun tampak gelap dan angin semakin dingin. Fana mengencangkan jaket yang membalut tubuhnya dan berjalan menyusuri jalan dengan lesu. Beberapa saat kemudian, Ia melihat seseorang berbaju hitam di sudut jalan dengan tangan kananmemegang telepon genggam dan tangan kirinya memegang pisau yang tajam.
“Aku akan membunuhnya malam ini juga!” ucap laki-laki itu saat berbicara ditelepon.
Tangannya gemetar dengan apa yang ia dengar saat itu, segera ia bersembunyi dan mendengarkan lebih jelas pembicaraan laki-laki berpakaian hitam tersebut.
“Setelah saat dia datang menemuiku, aku akan menusuknya saat itu, tubuhnya akan aku potong-potong menjadi beberapa bagian! Dan dari bagian-bagian itu akan aku sebar di beberapa negara yang berbeda agar tidak ada yang bisa menemukannya lagi!” ucapnya seraya berteriak.
Beberapa saat kemudian datang seorang laki-laki lain menemui pria berbaju hitam tadi. Beberapa saat ia terheran dengan apa yang ia lihat. “tidak mungkin!” ujarnya dalam hati. Laki-laki yang baru saja datang tidak lain adalah suaminya sendiri. Suami Fana delia yang baru dinikahinya selama satu tahun.
“Tidak, jangan! Tolong jangan mendekati orang itu suamiku, kau dalam bahaya!” suara fana parau seraya ingin berteriak, namun tiba-tiba lidahnya kelu dan tubuhnya tidak mampu bergerak.
“Jleb, jleb!” suara pisau menembus perut suaminya, ia terbelalak melihat keadaan didepan matanya.
“Tidaaaaaaakkkkkkkkkkk” teriak fana sekencang-kencangnya.
Sakit, seraya ada beribu jarum yang menusuk hatinya. Perih, seperti ada palu godam yang menghantam kepalanya kala ia melihat keadaan suaminya yang terkapar dan bersimbah darah. Fana tidak lagi memikirkan dirinya, ia berlari menghampiri laki-laki berbaju hitam yang menusukan pisau pada suaminya.
“Brengsek kau! Brengsek!, kenapa kau membunuh suamiku, apa salah dia?” teriak fana sambil memukul-mukul laki-laki berbaju hitam tadi dengan segenap kekuatan yang ada pada dirinya. Tiba-tiba matanya tertuju pada balok kayu yang ada disampingnya, dan seketika
“Bugg!” seketika kayu itu melayang ke bagian leher laki-laki berbaju hitam yang membuatnya langsung terjerembab ditanah.
“Rasakan kau! Rasakan ini, aku tidak akan memafkan bajingan seperti dirimu!” teriak fana sambil memukul badan laki-laki berbaju hitam yang sudah tidak sadarkan diri.
“Cintaku, apa yang sedang kau lakukan? Kenapa kau memukul orang itu?” tiba-tiba suara yang tidak asing terdengar olehnya, segera ia menoleh dan betapa kagetnya ketika ia melihat sosok suaminya berdiri, tepat dihadapannya.
“Suamiku, bagaimana kau bisa hidup kembali? Apakah Tuhan memberimu nyawa kedua? Bahwa Tuhan tau, aku tidak ingin pernah menjadi seorang janda” ucap fana dengan terheran-heran.
“Cintaku, aku tidak dibunuh seperti yang kamu kira! Bahkan aku baik-baik saja. Kau! Apa yang kau lakukan pada sutradara kita!” jawab suaminya.
“Sutradara kita? Apa maksudmu suamiku? Aku tidak mengerti!”.
“Kau telah menghancurkan segelanya istriku, kau menghancurkan hadiah ulang tahun kita! Aku ingin membuat sebuah film tentang pertemuan pertama kita, saat kau menyelamatkanku ketika aku dirampok dan ditusuk oleh preman-preman bajingan itu, dan sekarang kau telah melukai kawanku sekaligus seseorang yang mempunyai ide untuk membuat film ini.”
“Oh Tuhan, maafkan aku. Aku pikir kau benar-benar ditusuk olehnya, dan disinipun tidak ada juru kamera yang mengawasi kalian, oleh karena itu aku salah paham suamiku.”
“Aku sengaja tidak menyewa kameramen, karena aku hanya ingin melakukannya diam-diam hanya aku dan temanku saja istriku.”
Setelah mendengar penjelasan yang panjang lebar, akhirnya fana dan suaminya membawa teman yang menjadi korban keganasan fana kerumah sakit.
Sesampainya dirumah, fana masih belum berbicara dengan suaminya. Ketika memasuki kamar, matanya suaminya terbelalak dan otot-otot pada tenggorokannya mulai terlihat.
“Kau apakan kamar kita istriku! Kenapa kau memasang jemuran dikamar kita? Dan kenapa kau memakai cambukku untuk tali jemuran?” bentak suaminya.
“Maafkan aku suamiku, aku hanya kebingungan tadi siang ketika kau sudah pergi bekerja. Aku harus mengeringkan pakaian kita. Karena tadi pagi hujan sangat lebat dan kita tidak memiliki ruangan yang luas untuk membuat jemuran didalam rumah, makanya aku memakai cambukmu untuk membuat tali jemuran dikamar kita” jawab fana polos.
“Tapi istriku, ini cambuk warisan dari orang tuaku dan aku sangat menghormati warisan leluhur keluarga kami istriku. Sekarang, angkat jemuran itu dan kembalikan cambukku ketempat semula!”
Fana tidak menjawab perintah suaminya, ia langsung mengangkat jemuran yang ada dihadapannya sambil terus menggerutu dan melihat suaminya pergi kekamar mandi dan seketika...
“Brakkkkkk!!!” terdengar suara yang begitu keras didalam kamar mandi. Fana langsung berlari menuju kamar mandi.
“Suamiku, apa kau tidak apa-apa? Kenapa tadi suaranya begitu keras didalam” tanya fana sambil mengetuk-ngetuk pintu. Namun tidak ada jawaban dari suaminya. Ia ketakutan, ia merasa takut sesuatu terjdi pada suaminya. Segera ia memanggil ibu-ibu yang sedang ada diwarung sebelah rumahnya untu mendobrak pintu kamar mandi.
“Suamiku, akan kami dobrak kamar manndi ini” ucap fana.
“Tidak, tidak, jangan!” jawab suaminya, namun tidak bisa ia ucapkan karena bibirnya sudah terlalu lama menahan rasa sakit.
“Braaakk” suara pintu terbuka.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa, tidaaak!!” teriakan fana dan ibu-ibu yang mendobrak pintu. Fana terkejut ketika melihat suaminya telanjang didepan matanya sendiri.
“Kenapa kau menyuruh kami untuk melihat suamimu telanjang fana!” ucap salah satu ibu.
“Maafkan aku jeng, aku tidak tau kalau suamiku sedang telanjang dikamar mandi.”
“Baiklah, sekarang kita bungkus suamimu dan bawa kerumah sakit!”
Beberapa orang membawa suami fana ke ruang tengah, dan beberapa orang lagi menyiapkan mobil untuk membawanya kerumah sakit.
“Apa semuanya sudah siap?” tanya salah satu orang ketika semuanya sudah berada di mobil.
“Sudah” jawab mereka kompak.
“Tapi Fana, dimana suamimu? Kenapa kau tidak memasukannya ke mobil!”
“Oh tidak! aku melupakannya di ruang tengah.”
Setelah membawa suaminya kerumah sakit, Fana berterimakasih kepada ibu-ibu yang telah membantunya dan ia menginap dirumah sakit menunggu suaminya tersadar.
“Fana” panggil suaminya.
“Ah, kau sudah sadar suamiku. Apa kau baik-baik saja”
“Yah , aku baik-baik saja istriku. Istriku, kenapa kau justru memanggil ibu-ibu itu untuk mendobrak pintu kamar mandi? Dan kenapa kau juga ikut berteriak ketika melihatku tidak berpakaian? Bukankah kau sudah melihatku tidak berpakaian sebelumnya?”
“Maaf kan aku suamiku, aku sangat bingung tadi dan asal kau tau suamiku. Aku pernah merasakanmu! Tapi aku tidak pernah melihatmu tidak berpakaian seperti itu, itulah kenapa aku sangat kaget dan ikut berteriak.”
“Oh Tuhan, kenapa istriku begitu.. sudah lah lupakan saja.”
“Ah suamiku, sekarang pukul 00.00 WIB, happy anniversary suamiku, aku mencintaimu!” ucap fana sambil mengecup dahi suaminya.

“Aku juga sangat mencintaimu istriku, bahkan lebih dari yang kau kira” jawab suaminya dengan tersenyum.