Pagi itu mentari memancar terang, sinarnya yang keemasan
menyepuh genting dan pepohonan, angin bertiup sepoi-sepoi membelai rambutnya
yang terurai panjang, langit cerah, hawa sejuk perlahan merasuk kedalam relung
hatinya, ia duduk di bawah pohon yang rindang, melipatkan kedua kakinya yang
mungil dan meletakan dagunya pada kedua lututnya yang hitam, matanya terus
memandangi segerombolan mahasiswa yang sedang bercandaria.
“Ah, bahagia sekali mereka” ujarnya dalam hati.
Wulan, mahasiswi fakultas kedokteran hewan yang kuliah
di Institut Pertanian Bogor, berada jauh dari keluarganya untuk menggapai
sebuah mimpi menjadi seorang dokter yang ingin mengubah desanya menjadi desa
yang maju tanpa keterbelakangan
pendidikan.
Matanya terus memperhatikan mahasiswa yang lalu lalang,
sampai ia tidak melihat sosok gadis yang ada disampingnya.
“Hey, kau sedang apa disini”.? Suara yang begitu lembut tapi
mengagetkan Wulan.
“Ah Vina, kau sungguh
mengagetkanku” jawab Wulan.
“Maaf Lan, aku tidak bermaksud
mengagetkanmu, aku heran saja kenapa kau duduk disini sendirian? Kau sedang
melihat apa?”.
“Ohh, tidak, aku hanya duduk saja” jawabnya singkat
“Duduk apa melamun”?
“Dua-duanya, ayo kita masuk, sebentar lagi kita ada kelas bukan”? ajak
Wulan sambil
berusaha berdiri
“Yaudah yuk” balas Vina.
Wulan sangat
beruntung memiliki sahabat seperti Vina,
meskipun cantik ia tidak sombong seperti teman-temannya yang lain, satu hal
lagi yang ia sukai dari Vina, Vina mengerti sikap Wulan, bagi Wulan, Vina bukan hanya sekedar sahabat tapi ia seperti kakak
untuk Wulan, ia selalu membantunya jika dalam masalah, hal itulah yang mambuat
ia betah hidup di tengah derasnya kehidupan kota.
Saat di kelas pun pikiran Wulan kembali melayang, kali
ini pandangannya ia arahkan keluar jendela melihat burung-burung kecil yang
sedang terbang dengan bebas, ia ingin sekali seperti burung itu yang memiliki
sayap, sehingga kala ia rindu kepada ibunya, ia bisa dengan cepat menemui
ibunya. Wulan
tersadar dari lamunannya saat suasana kelas menjadi gaduh, ia tidak tahu apa
yang terjadi, tapi yang ia dengar namanya disebut-sebut oleh seorang Dosen.
“ Wulandari Sukma Asti” panggil
seorang dosen.
Wulan masih terpaku dengan lamunannya,
ia tidak menyadari namanya telah dipanggil berkali-kali.
“ Lan, kamu dipanggil bu Dina” ucap
Vina pada Wulan.
“Ah, ada apa Vin?”
“Kamu dipanggil bu Dina!, kamu kenapa
Lan? Kenapa kamu melamun terus dari tadi? Apa ada hal yang mengganggu
pikiranmu?”
“Ah, iya bu. Saya Wulan” jawab wulan
mengalihkan pertanyaan dari Vina.
“Sekarang ikut saya keruang bu Katrin”
perintah bu Dina.
“Baiklah bu” jawab Wulan singkat.
Sesampainya didepan ruangan bu Katrin,
perasaan Wulan mendadak gelisah, hatinya tidak menentu dan rasa cemas mennjalar
keseluruh tubuhnya. Entah kenapa, tangannya begitu kaku untuk memegang gagang
pintu.
“Bismillah” ucapnya dalam hati.
“Masuklah Wulan dan duduklah” ucap bu
Katrin ketika melihat Wulan berada di ambang pintu.
“Ada apa Ibu memanggil saya bu” ucap
Wulan gugup.
“Sebelumnya, jangan bersedih. Ibu baru
mendapatkan kabar dari Ibu mu, bahwa ayahmu telah berpulang KepadaNya.”
Sakit….
Seperti ada belati menghujam ke ulu hatinya
Perih…
Seolah ada paku berkarat tertancap di batok kepalanya, tulang
belulangnya terasa ngilu bagaikan di remuk-remuk dengan palu godam, dan langit
seakan-akan runtuh menimpa dirinya, dadanya terasa sesak dan ia hampir
meneteskan air matanya, untung saja Wulan masih memiliki secuil kekuatan untuk
mengendalikan dirinya, kalau tidak, mungkin saat ia menangis, teman
disebelahnya yang bakal frustasi karena mendapatkan banyak pertanyaan.
“ Wulan, ada apa lan?” tanya Vina sambil mengatur jalan nafasnya.
Serta merta Wulan merangkul Vina, menangis tersedu-sedu dan menceritakan
perihal tentang ayahnya, tanpa ragu lagi Vina mengantar Wulan pulang kekampung halamannya.
Mereka menaiki sebuah kereta diiringi hujan yang sangat deras, di dalam kereta
mereka hanya diam membisu tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut
mereka yang ada hanya kesunyian dan keheningan.
Saat kereta yang membawa mereka berhenti, hujan turun
masih sangat deras, mendung masih menyelimuti hati mereka dan waktu telah
menunjukan pukul 04.00 WIB. Wulan tergesa-gesa mencari angkot yang menuju
rumahnya, ia tak sabar lagi untuk melihat wajah ayahnya untuk yang terakhir
kali.
“Lan, ada baiknya jika kita tunggu sampai adzan subuh dulu, barulah kita
lanjutkan perjalanan”. Ucap Vina membuyarkan keheningan
“Tapi
Vin,aku ingin
melihat ayah, aku ingin melihat wajahnya yang teduh untuk yang terakhir kalinya
Vin” jawab Wulan dengan suara sedikit gemetaran.
“Iya, aku tahu Lan, tapi akan lebih baik jika kita lanjutkan setelah shalat subuh
dulu.”
Tak lama kemudian adzan subuh berkumandang, Vina mengajak Wulan untuk
shalat terlebih dahulu dan menumpahkan segala kesedihan kepadaNya, setelah itu
mereka berganti pakaian dan melanjutkan perjalanan.
Sesampainya dirumah, ibunya menyambut Wulan dengan
tangisan saat ditunjukan keadaan ayahnya dengan mata tertutup, terlihat sekali
kesedihan dimata Wulan, ia mencium dahi ayahnya untuk yang terakhir kali, Wulan
berusaha untuk menabahkan diri tapi ia tidak dapat lagi menahan tangisnya, ia
merangkul tubuh ayahnya, menangis tersedu-sedu meminta ayahnya untuk hidup
kembali.
Mendung pagi hari
masih menyisakan lara di hati Wulan, ia tak pernah menyangka betapa cepat
ayahnya pergi, disaat ia membutuhkan dukungan dari kedua orang tuanya. Seminggu
telah berlalu, Wulan masih memikirkan kepergian ayahnya, saat vina mengajaknya
kembali ke Jakarta ia menolak dengan alasan ingin menemani adik dan ibunya di
rumah.
“Aku ingin disini saja Vin, aku ingin bekerja membantu ibu membiayai sekolah dede Vin”.
“Iya Lan, tapi bagaimana dengan kuliahmu?”
“Tapi Vin, apa kamu tega melihat ibuku bekerja sendiri membiayai…..
Wulan tak melanjutkan perkataannya, karena ia melihat
ibunya datang menghampiri.
“Sudahlah nak, ibu dan adikmu disini tidak apa-apa, pergilah nak
tamatkan kuliahmu dan jadilah orang sukses seperti apa yang kamu inginkan” bujuk ibunya meyakinkan Wulan.
“ Tapi bu, Wulan pengin disini membantu ibu”
“Tidak usah nak, ibu masih sanggup untuk membiayai sekolah adikmu,
sekarang kamu pergilah dan tamatkan kuliah mu”
Akhirnya dengan
hati berat Wulan kembali ke Jakarta bersama Vina, sesampainya disana Wulan lebih banyak diam,
hari-harinya tak seceria dulu, ia lebih sering menyendiri dan melamun,
kepergian ayahnya banyak memberikan perubahan pada diri Wulan. Saat Wulan
terkonsentrasi pada bukunya, suara orang tua separuh baya mengejutkannya, ia
tersadar dan langsung menutup buku yang ia baca, entah ada berita apa lagi
paman Wulan mengunjunginya.
“Paman, silahkan duduk paman, tumben paman mampir kekostan Wulan,ada
apa paman?”
Pamannya tidak segera menjawab pertanyaan Wulan, ia memikirkan
bagaimana nasib Wulan nantinya.
“Paman kenapa?”
“Lan, sebelumnya paman minta maaf sekali, paman tidak bias lagi
membiayaimu kuliah, saat ini keadaan ekonomi paman sangat kritis, usaha paman
sudah mulai bangkrut lan, sekarang saja paman dan keluarga sudah pindah kerumah
yang lebih kecil, maafkan paman yah lan tidak bisa menamatkan kuliahmu.”
Mendengar semua itu, hati Wulan terasa miris, malang
sekali nasibnya, sekarang ia harus menamatkan kuliahnya sendiri.
“Tidak apa-apa paman, seharusnya Wulan yang berterimakasih karena
telah membiayai Wulan selama dua tahun lebih, terimakasih paman untuk semuanya”
dengan suara
getir menahan pedih Wulan menjawabnya.
“Tapi Lan, bagaimana dengan kuliahmu, paman sangat minta maaf dulu
menawarkan kuliah kepadamu, tapi sekarang paman tidak dapat lagi membiayaimu”
“Tidak apa-apa paman, paman tidak usah khawatir, Allah maha kaya
paman, insya Allah Wulan sanggup menamatkannya sendiri, yang Wulan butuhkan
sekarang doa dan dukungan dari paman”
“ Iya lan, insya Allah paman doakan, kamu orang yang baik lan, pasti
Allah akan selalu bersamamu”
“Terimakasih paman, ngomong-ngomong paman sekarang pindah dimana?”
“Paman sekarang pindah di kompleks perumahan sederhana, tidak jauh
dari kampus kamu, kalau kamu sempat mainlah, bibi pasti senang”.
“Iya insya Allah paman.”
Malamnya Wulan tidak bisa tidur, ia terus memikirkan
bagaimana caranya ia mendapatkan uang untuk biaya kuliahnya, sedangkan gaji
yang ia dapatkan dari bekerja sebagai pelayan di sebuah toko sepatu hanya cukup
untuk membiayai hidupnya, ia merebahkan tubuhnya di atas kasur, melihat
indahnya sinar bulan di balik jendela, begitu terang, sinarnya yang keperakan
memancar menembus jendela kamar Wulan.
“Ya Allah, aku tahu Engkau maha kaya, Engkau yang menciptakan bumi dan
langit, Engkau juga mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi di bumi ini, aku
serahkan semunya kepadamu ya Allah” Doa Wulan didalam hati, sambil berusaha memejamkan
matanya. Pukul 03.00 pagi, Wulan terbangun, ia kemudian mengambil air wudhu
untuk shalat tahajud, dan menggelar sajadah biru pemberian ibunya, rakaat
pertama Wulan begitu khusuk saat membaca surat Al-baqarah, rakaat kedua air
matanya menetes membasahi pipinya yang mungil, ia tumpahkan segala kesedihannya
di dalam sujud, ia tahu bahwa Allah pemilik segalanya.
Hari demi hari telah berlalu, Wulan bekerja keras untuk
membiayai kuliahnya sendiri, waktu libur yang harusnya ia gunakan untuk
istirahat, ia gunakan intuk bekerja, ia tak pernah lupa untuk puasa hari senin
dan kamis, tubuhnya yang kuruspun kini semakin kurus, setelah satu tahun
berlalu akhirnya Wulan berhasil melewati skripsi dan sekarang ia hanya menunggu
saat ia di wisuda. Saat hari wisuda tiba, ibu dan adik Wulan datang untuk
melihat dan mengucapkan selamat kepadanya, sinar kebahagiaan terpancar dari
wajah Wulan, pipinya yang mungil merona merah saat ibunya memuji kegigihannya. Setelah
selesai wisuda, Wulan ingin menemui Vina yang tengah berbincang dengan Mitha diseberang jalan, saat Wulan berlari
menyeberangi jalan, ia lengah tidak melihat mobil jip berwarna silver yang
melaju kencang menuju arahnya, dan seketika
itu,.
“BRAAKKKK” Wulan tertabrak, tubuhnya terpental sejauh 6 meter
dari tempat kejadian.
“Wulaaaannn” Ibunya berlari menghampiri tubuh Wulan yang berlumuran darah, isak
tangis terus terdengar dari ibunya, dan segera mungkin ibunya membawa Wulan
kerumah sakit. Saat tersadar, Wulan mendapati dirinya tengah berada di rumah
sakit.
“Ibu, Wulan
ada dimana bu”? tanya Wulan dengan suara lirih dan terbata-bata.
“Kamu ada di rumah sakit sayang” jawab ibunya masih terisak.
“Ibu, ada yang mendekat, ia tersenyum bu”
“Tidak nak, kamu akan baik-baik saja, disini ada ibu”
“Bu, tuntun Wulan membaca syahadat”
Dengan berat hati ibunya menuntun Wulan
membaca kalimat syahadat,
“Asyhadu ala ila hailallah, waasyhadu ana muhammada
rosululloh.”
Perlahan suaranya mulai menghilang, tangannya terasa dingin, dan Wulan menghembuskan
nafas untuk yang terakhir kalinya dengan keadaan khusnul khotimah, ibunya
menangis menatapi kepergian Wulan, ia mencium dahi anak kesayangannya diiringi
derasnya air mata. Vina tak dapat lagi menahan tangisnya, ia menangis
sejadi-jadinya, ia kehilangan seorang sahabat yang begitu berarti, begitu hebat
dan begitu sabar. Adiknya yang masih duduk di bangku SD menangis sambil
merangkul tubuh
ibunya, ia tahu kalau Wulan pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya, tak ada
lagi yang mengajarinya belajar, tak ada lagi yang membantunya membuat kerajinan
tangan, dan tak ada lagi sosok kakak yang selalu menghiburnya jika dalam
kesedihan. Ia terisak dalam rangkulan ibunya.
Gerimis pagi hari menghantarkan kepergian Wulan, Adzan
subuh berkumandang menghempaskan mimpi-mimpinya. Burung-burung masih berkicau
seperti biasa,embun pagi membasahi rerumputan dan daun-daun seakan menyerahkan
hijaunya pada musim.
Allah telah
merencanakan yang terbaik untuk umatNya, begitupun dengan Wulan, ia berusaha
dengan keras untuk bisa menggapai cita-citanya, tapi Tuhan pun berkehendak
lain.