Hiu, dia seperti hiu
yang menawan dengan berbagai atraksi yang ia perlihatkan. saat itu, pertama
kali aku melihatnya, aku merasa telah mengenalnya sejak lama meski aku baru
melihatnya. Dia berbeda, aku seperti melihat cerminan diriku padanya, matanya
yang sendu, seakan menunjukan ada kesedihan yang mendalam disana, saat dia
tersenyum menunjukan terdapat lubang besar dihatinya seperti luka yang pernah
aku rasakan. Aku tidak pernah berharap pertemuanku dengannya akan berlanjut,
aku hanya menganggap pertemuanku dengannya hanyalah sebuah kebetulan, tapi
Tuhan berkata lain. Tuhan mempertemukanku dengannya lagi dalam sebuah acara,
dan ketika itu aku mendengarnya mensenandungkan sebuah lagu. “Indah” itu
kata-kata pertama yang aku ucapkan ketika mendengar lagu itu, entah kenapa aku
merasakan sesuatu yang berbeda, benarkah aku menyukainya? Aku menyukainya
ketika pertama kali aku melihatnya, aku menyukai caranya melihatku, aku
menyukai caranya tersenyum dan berbicara kepadaku seolah membuatku menjadi
seorang gadis yang paling berarti dimatanya. “Yah, aku menyukai segala apa yang
ada didalam dirinya, dia orang pertama yang membuat jantungku berdetak dua kali
lebih cepat ketika aku melihatnya, dia orang pertama yang membuatku tersenyum
ketika kesedihan menerpa hatiku, tapi dia satu-satunya orang yang tidak pernah
bisa aku dapatkan dalam hidupku. Suatu ketika, aku mengundangnya di sebuah
acara sebagai tamu undangan, entah kegilaan apa yang aku lakukan saat itu,
dengan segala cara aku berusaha mendekatinya, bahkan jika itu sedikit menepis
harga diriku. Mungkin saat itu aku telah kehilangan akal sehatku karenanya,
karena aku mencintainya.
Dalam acara tersebut
dia memperagakan sebuah sulap. Yah, selain jago bernyanyi, dia juga jago
bermain sulap dan bigbox, ketika dia sedang mempersiapkan sulapnya, aku
berusaha mendekatinya dan mencoba untuk berbicara padanya, saat itu aku
menuliskan inisial huruf “Y dan D” inisial huruf itu menunjukan namaku dan namanya
“Yola dan Dani”.
“Akan bagus kalau
dikertas ini aku menuliskan huruf Y dan D, bagamana menurutmu Dan?” aku
bertanya padanya sambil melihatnya mempersiapkan pertunjukan.
“Tidak juga, aku lebih
suka jika disini tertulis huruf “H dan D” jawabnya singkat. Saat itu aku mulai
mengerti, usahaku selama ini untuk mendekatinya, caraku untuk mendapatkan
cintanya tidak pernah bisa menggantikan seseorang yang ada didalam hatinya. Dia
mencintai orang lain dan dia sangat mencintai gadis itu, hingga dia rela
melepaskan gadis itu ke genggaman laki-laki lain, tapi dia masih menyimpan nama
gadis itu selama dia masih bernafas dan aku, aku hanyalah seseorang yang
mencoba untuk masuk ke dalam hatinya tanpa tahu hatinya telah menjadi milik
orang lain. Dunia nya dan dunia ku sungguh berbeda, bagaimanapun caranya aku
tidak pernah bisa masuk dalam dunianya, dan dia tidak pernah bisa masuk dalam
duniaku. Suatu ketika, aku tidak bisa menahan perasaanku padanya, aku selalu
memaksa bahwa dia bisa mencintaiku.
“Walaupun aku tidak
sanggup untuk menceritakannya padamu, tetapi aku telah jatuh cinta padamu sejak
pertama kali aku melihatmu, meski aku tau kehadiranmu dalam hidupku hanya
membuatku dalam kesedihan, tetapi aku mencintaimu” aku mengatakan hal ini
padanya.
“Maaf jika selama ini
aku bersalah padamu dalam hal sikap maupun tindakan, yang ingin aku lakukan
saat ini hanya berusaha memperbaiki diri, kuliah, kerja dan membahagiakan orang
tua, untuk masalah cinta, aku tidak ingin memikirkannya dulu “ jawabnya padaku.
Sejak saat itu aku
menyadari, aku tidak bisa memaksa seseorang untuk mencintaiku, ketika aku
benar-benar mencintai seseorang, dari lubuk hati yang paling dalam, aku akan
mendo’akan dia bahagia meski bukan denganku, meski entah sampai kapan aku bisa
menatapnya tanpa merasakan perasaan setiap kali aku melihatnya dan sekarang aku
seperti sebuah mermaid yang mencintai hiu yang hanya bisa tinggal didekatnya
dengan kesedihan karena aku mencintainya.


