twitter


Malam semakin sunyi, jalananpun tampak gelap dan angin semakin dingin. Fana mengencangkan jaket yang membalut tubuhnya dan berjalan menyusuri jalan dengan lesu. Beberapa saat kemudian, Ia melihat seseorang berbaju hitam di sudut jalan dengan tangan kananmemegang telepon genggam dan tangan kirinya memegang pisau yang tajam.
“Aku akan membunuhnya malam ini juga!” ucap laki-laki itu saat berbicara ditelepon.
Tangannya gemetar dengan apa yang ia dengar saat itu, segera ia bersembunyi dan mendengarkan lebih jelas pembicaraan laki-laki berpakaian hitam tersebut.
“Setelah saat dia datang menemuiku, aku akan menusuknya saat itu, tubuhnya akan aku potong-potong menjadi beberapa bagian! Dan dari bagian-bagian itu akan aku sebar di beberapa negara yang berbeda agar tidak ada yang bisa menemukannya lagi!” ucapnya seraya berteriak.
Beberapa saat kemudian datang seorang laki-laki lain menemui pria berbaju hitam tadi. Beberapa saat ia terheran dengan apa yang ia lihat. “tidak mungkin!” ujarnya dalam hati. Laki-laki yang baru saja datang tidak lain adalah suaminya sendiri. Suami Fana delia yang baru dinikahinya selama satu tahun.
“Tidak, jangan! Tolong jangan mendekati orang itu suamiku, kau dalam bahaya!” suara fana parau seraya ingin berteriak, namun tiba-tiba lidahnya kelu dan tubuhnya tidak mampu bergerak.
“Jleb, jleb!” suara pisau menembus perut suaminya, ia terbelalak melihat keadaan didepan matanya.
“Tidaaaaaaakkkkkkkkkkk” teriak fana sekencang-kencangnya.
Sakit, seraya ada beribu jarum yang menusuk hatinya. Perih, seperti ada palu godam yang menghantam kepalanya kala ia melihat keadaan suaminya yang terkapar dan bersimbah darah. Fana tidak lagi memikirkan dirinya, ia berlari menghampiri laki-laki berbaju hitam yang menusukan pisau pada suaminya.
“Brengsek kau! Brengsek!, kenapa kau membunuh suamiku, apa salah dia?” teriak fana sambil memukul-mukul laki-laki berbaju hitam tadi dengan segenap kekuatan yang ada pada dirinya. Tiba-tiba matanya tertuju pada balok kayu yang ada disampingnya, dan seketika
“Bugg!” seketika kayu itu melayang ke bagian leher laki-laki berbaju hitam yang membuatnya langsung terjerembab ditanah.
“Rasakan kau! Rasakan ini, aku tidak akan memafkan bajingan seperti dirimu!” teriak fana sambil memukul badan laki-laki berbaju hitam yang sudah tidak sadarkan diri.
“Cintaku, apa yang sedang kau lakukan? Kenapa kau memukul orang itu?” tiba-tiba suara yang tidak asing terdengar olehnya, segera ia menoleh dan betapa kagetnya ketika ia melihat sosok suaminya berdiri, tepat dihadapannya.
“Suamiku, bagaimana kau bisa hidup kembali? Apakah Tuhan memberimu nyawa kedua? Bahwa Tuhan tau, aku tidak ingin pernah menjadi seorang janda” ucap fana dengan terheran-heran.
“Cintaku, aku tidak dibunuh seperti yang kamu kira! Bahkan aku baik-baik saja. Kau! Apa yang kau lakukan pada sutradara kita!” jawab suaminya.
“Sutradara kita? Apa maksudmu suamiku? Aku tidak mengerti!”.
“Kau telah menghancurkan segelanya istriku, kau menghancurkan hadiah ulang tahun kita! Aku ingin membuat sebuah film tentang pertemuan pertama kita, saat kau menyelamatkanku ketika aku dirampok dan ditusuk oleh preman-preman bajingan itu, dan sekarang kau telah melukai kawanku sekaligus seseorang yang mempunyai ide untuk membuat film ini.”
“Oh Tuhan, maafkan aku. Aku pikir kau benar-benar ditusuk olehnya, dan disinipun tidak ada juru kamera yang mengawasi kalian, oleh karena itu aku salah paham suamiku.”
“Aku sengaja tidak menyewa kameramen, karena aku hanya ingin melakukannya diam-diam hanya aku dan temanku saja istriku.”
Setelah mendengar penjelasan yang panjang lebar, akhirnya fana dan suaminya membawa teman yang menjadi korban keganasan fana kerumah sakit.
Sesampainya dirumah, fana masih belum berbicara dengan suaminya. Ketika memasuki kamar, matanya suaminya terbelalak dan otot-otot pada tenggorokannya mulai terlihat.
“Kau apakan kamar kita istriku! Kenapa kau memasang jemuran dikamar kita? Dan kenapa kau memakai cambukku untuk tali jemuran?” bentak suaminya.
“Maafkan aku suamiku, aku hanya kebingungan tadi siang ketika kau sudah pergi bekerja. Aku harus mengeringkan pakaian kita. Karena tadi pagi hujan sangat lebat dan kita tidak memiliki ruangan yang luas untuk membuat jemuran didalam rumah, makanya aku memakai cambukmu untuk membuat tali jemuran dikamar kita” jawab fana polos.
“Tapi istriku, ini cambuk warisan dari orang tuaku dan aku sangat menghormati warisan leluhur keluarga kami istriku. Sekarang, angkat jemuran itu dan kembalikan cambukku ketempat semula!”
Fana tidak menjawab perintah suaminya, ia langsung mengangkat jemuran yang ada dihadapannya sambil terus menggerutu dan melihat suaminya pergi kekamar mandi dan seketika...
“Brakkkkkk!!!” terdengar suara yang begitu keras didalam kamar mandi. Fana langsung berlari menuju kamar mandi.
“Suamiku, apa kau tidak apa-apa? Kenapa tadi suaranya begitu keras didalam” tanya fana sambil mengetuk-ngetuk pintu. Namun tidak ada jawaban dari suaminya. Ia ketakutan, ia merasa takut sesuatu terjdi pada suaminya. Segera ia memanggil ibu-ibu yang sedang ada diwarung sebelah rumahnya untu mendobrak pintu kamar mandi.
“Suamiku, akan kami dobrak kamar manndi ini” ucap fana.
“Tidak, tidak, jangan!” jawab suaminya, namun tidak bisa ia ucapkan karena bibirnya sudah terlalu lama menahan rasa sakit.
“Braaakk” suara pintu terbuka.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa, tidaaak!!” teriakan fana dan ibu-ibu yang mendobrak pintu. Fana terkejut ketika melihat suaminya telanjang didepan matanya sendiri.
“Kenapa kau menyuruh kami untuk melihat suamimu telanjang fana!” ucap salah satu ibu.
“Maafkan aku jeng, aku tidak tau kalau suamiku sedang telanjang dikamar mandi.”
“Baiklah, sekarang kita bungkus suamimu dan bawa kerumah sakit!”
Beberapa orang membawa suami fana ke ruang tengah, dan beberapa orang lagi menyiapkan mobil untuk membawanya kerumah sakit.
“Apa semuanya sudah siap?” tanya salah satu orang ketika semuanya sudah berada di mobil.
“Sudah” jawab mereka kompak.
“Tapi Fana, dimana suamimu? Kenapa kau tidak memasukannya ke mobil!”
“Oh tidak! aku melupakannya di ruang tengah.”
Setelah membawa suaminya kerumah sakit, Fana berterimakasih kepada ibu-ibu yang telah membantunya dan ia menginap dirumah sakit menunggu suaminya tersadar.
“Fana” panggil suaminya.
“Ah, kau sudah sadar suamiku. Apa kau baik-baik saja”
“Yah , aku baik-baik saja istriku. Istriku, kenapa kau justru memanggil ibu-ibu itu untuk mendobrak pintu kamar mandi? Dan kenapa kau juga ikut berteriak ketika melihatku tidak berpakaian? Bukankah kau sudah melihatku tidak berpakaian sebelumnya?”
“Maaf kan aku suamiku, aku sangat bingung tadi dan asal kau tau suamiku. Aku pernah merasakanmu! Tapi aku tidak pernah melihatmu tidak berpakaian seperti itu, itulah kenapa aku sangat kaget dan ikut berteriak.”
“Oh Tuhan, kenapa istriku begitu.. sudah lah lupakan saja.”
“Ah suamiku, sekarang pukul 00.00 WIB, happy anniversary suamiku, aku mencintaimu!” ucap fana sambil mengecup dahi suaminya.

“Aku juga sangat mencintaimu istriku, bahkan lebih dari yang kau kira” jawab suaminya dengan tersenyum.

0 komentar:

Posting Komentar