twitter



Dear  ibu,
Bu, apa kabarmu? Semoga kau disana baik-baik saja. Putrimu pun disini dalam keadaan baik. Bu, aku sangat merindukanmu.
Bu, tanpa terasa waktu terus berlalu, musim terus berganti, dan sekarang usiaku sudah 18 tahun, tapi di usia sebesar ini, tak pernah terfikir oleh ku untuk mengucapkan kata sayang pada ibu dan ayah. Bu, ingin sekali ku menangis dipangkuanmu, meminta maaf atas segala kesalahan-kesalahan yang selama ini aku buat, dan mengatakan aku sangat mencintaimu.
Ketika aku masih kecil sampai usiaku 18 tahun, aku masih saja egois, masih selalu mementingkan diri sendiri tanpa mau memikirkan keadaan ibu. Masih teringat jelas di dalam benakku saat aku merengek-rengek meminta ibu membelikanku handphone, tetapi ibu tidak dapat memenuhi keinginanku, aku langsung membanting pintu kamarku dan mengurung diri dikamar. Namun, dengan penuh sabar dan kelembutan engkau merayuku, membujukku agar aku mau mengerti, tapi saat itu aku tak pernah peduli, yang aku inginkan saat itu adalah ibu mau memenuhi keinginanku.
Saat ibu sibuk dengan dagangan ibu, aku jarang membantu ibu, tapi ibu tak pernah mengeluh sedikitpun, meski dalam keadaan sakit,  ibu terus mencari uang untuk membiayai ku sekolah, engkau tak pernah peduli dengan dirimu sendiri, kau mati-matian banting tulang untuk membiayaiku sekolah, sampai tubuhmu menjadi kuruspun kau tak pernah peduli, yang kau pedulikan hanya aku dan kebahagiaanku. Sudah berapa banyak kesalahan yang aku lakukan, tetapi ibu terus menyayangiku dan menuruti apa yang aku minta. Ibu, masihkah ada kata maaf untuk putrimu, putri yang selama ini sering mengabaikan nasihat-nasihat mu, putri yang tak pantas dianggap sebagai anakmu, seorang ibu yang begitu mulia, yang tak pernah letih untuk membahagiakanku dan selalu tersenyum meski sebenarnya hatinya menangis. Maafkan aku bu.
Saat aku sakit, engkau merawatku dengan penuh kasih sayang dan kelembutan, saat aku enggan untuk makan, engkau dengan sabar membujukku dan menyuapiku, dan saat aku enggan untuk bangun dari tidurku engkau terus berusaha membangunkanku dengan rasa cintamu yang begitu besar kepadaku. Tapi saat ibu sakit, aku tak bisa merawat ibu dengan baik seperti yang ibu lakukan padaku, ingin rasanya aku memaki diriku sendiri bu, kenapa aku begitu tak berguna untuk ibu, kenapa selama ini aku tak menyadari cintamu begitu besar untukku.
Ibu, masih bisakah kita untuk terus bersama?, masih bisakah kita untuk saling tertawa?, dan masih bisakah kita untuk saling menyayangi? Aku takut bu, aku takut tak bisa membahagiakanmu, aku takut hanya akan menyusahkanmu, dan aku takut tak bisa membalas budimu bu. Selama ini sudah begitu banyak yang kau berikan kepadaku, tetapi aku belum bisa membalas kebaikan ibu. Aku janji bu, suatu saat nanti aku pasti akan membahagiakan ibu, merawat ibu dengan baik, mencintai ibu seperti ibu mencintaiku.
Ibu, ku tulis surat ini dengan air mata dan hatiku, sebagai tanda aku sangat mencintaimu, dan aku sangat merindukanmu. Saat aku jauh darimu, rindu ini begitu terasa menggebu di dalam kalbuku, mengalir dalam darahku dan selalu ada disetiap hembusan nafasku. Bu, aku ingin ibu selalu ada disetiap langkahku, menemani disetiap lembaran cerita hidupku, dan selalu menghiasi hari-hariku dengan doa-doa mu. Bu, andai aku bisa mengukir namamu dengan air mataku, akan ku buat menara air sketsa wajahmu, agar setiap saat aku bisa melihat wajah ibu yang begitu teduh dihiasi dengan senyum keikhlasan. Andai aku punya sayap, aku ingin terbang menemuimu dan saat aku bersamamu, akan ku patahkan sayap itu agar aku tak bisa lagi pergi jauh darimu, I miss u mom, rinduku padamu takan pernah berhenti.
Putrimu,


0 komentar:

Posting Komentar