Dear ibu,
Bu,
apa kabarmu? Semoga kau disana baik-baik saja. Putrimu pun disini dalam keadaan baik.
Bu, aku sangat merindukanmu.
Bu, tanpa terasa waktu terus berlalu,
musim terus berganti, dan sekarang usiaku sudah 18 tahun, tapi di usia sebesar ini, tak pernah terfikir oleh ku untuk
mengucapkan kata sayang pada
ibu dan ayah. Bu, ingin sekali ku menangis
dipangkuanmu, meminta maaf
atas segala kesalahan-kesalahan yang
selama ini aku buat, dan mengatakan aku sangat mencintaimu.
Ketika
aku masih kecil sampai
usiaku 18 tahun, aku masih saja egois, masih selalu mementingkan diri sendiri tanpa
mau memikirkan keadaan ibu. Masih teringat jelas di dalam benakku saat aku
merengek-rengek meminta ibu membelikanku handphone, tetapi ibu tidak dapat
memenuhi keinginanku, aku langsung membanting pintu kamarku dan mengurung diri
dikamar. Namun, dengan penuh sabar dan kelembutan engkau merayuku, membujukku
agar aku mau mengerti, tapi saat itu aku tak pernah peduli, yang aku inginkan
saat itu adalah ibu mau memenuhi keinginanku.
Saat ibu sibuk dengan dagangan ibu, aku jarang
membantu ibu, tapi ibu tak pernah mengeluh sedikitpun, meski dalam keadaan
sakit, ibu terus mencari uang untuk
membiayai ku sekolah, engkau tak pernah peduli dengan dirimu sendiri, kau
mati-matian banting tulang untuk membiayaiku sekolah, sampai tubuhmu menjadi
kuruspun kau tak pernah peduli, yang kau pedulikan hanya aku dan kebahagiaanku.
Sudah berapa banyak kesalahan yang aku lakukan, tetapi ibu terus menyayangiku
dan menuruti apa yang aku minta. Ibu,
masihkah ada kata maaf untuk putrimu, putri yang selama ini sering mengabaikan
nasihat-nasihat mu, putri yang tak pantas dianggap sebagai anakmu, seorang ibu
yang begitu mulia, yang tak pernah letih untuk membahagiakanku dan selalu
tersenyum meski sebenarnya hatinya
menangis. Maafkan aku bu.
Saat aku sakit, engkau merawatku dengan penuh kasih
sayang dan kelembutan, saat aku enggan untuk makan, engkau dengan sabar
membujukku dan menyuapiku, dan saat aku enggan untuk bangun dari tidurku engkau
terus berusaha membangunkanku dengan rasa cintamu yang begitu besar kepadaku.
Tapi saat ibu sakit, aku tak bisa merawat ibu dengan baik seperti yang ibu
lakukan padaku, ingin rasanya aku memaki diriku sendiri bu, kenapa aku begitu
tak berguna untuk ibu, kenapa selama ini aku tak menyadari cintamu begitu besar
untukku.
Ibu, masih bisakah kita untuk terus bersama?, masih
bisakah kita untuk saling tertawa?, dan masih bisakah kita untuk saling
menyayangi? Aku takut bu, aku takut tak bisa membahagiakanmu, aku takut hanya
akan menyusahkanmu, dan aku takut tak bisa membalas budimu bu. Selama ini sudah
begitu banyak yang kau berikan kepadaku, tetapi aku belum bisa membalas
kebaikan ibu. Aku janji bu, suatu saat nanti aku pasti akan membahagiakan ibu,
merawat ibu dengan baik, mencintai ibu seperti ibu mencintaiku.
Ibu, ku tulis surat ini dengan air mata dan hatiku,
sebagai tanda aku sangat mencintaimu, dan aku sangat merindukanmu.
Saat aku jauh darimu, rindu ini begitu terasa menggebu di dalam kalbuku,
mengalir dalam darahku dan selalu ada disetiap hembusan nafasku. Bu, aku ingin ibu selalu ada disetiap langkahku,
menemani disetiap lembaran cerita hidupku, dan selalu menghiasi hari-hariku
dengan doa-doa mu. Bu, andai aku bisa mengukir namamu dengan air mataku, akan
ku buat menara air sketsa wajahmu, agar setiap saat aku bisa melihat wajah ibu
yang begitu teduh dihiasi dengan senyum keikhlasan. Andai aku punya sayap, aku ingin terbang menemuimu dan
saat aku bersamamu, akan ku patahkan sayap itu agar aku tak bisa lagi pergi
jauh darimu, I miss u mom, rinduku padamu takan pernah berhenti.
Putrimu,


