“ Ibu, aku ingin
kuliah”.
Itulah kata pertama
yang aku ucapkan padanya ketika kami sedang menyantap makan malam yang ibu
sediakan tadi siang. Sejenak terasa hening, ibu masih bergelut dengan makanan
yang ada dihadapannya.
“Ibu, aku ingin kuliah”
ulangku lagi ketika ibu tak kunjung menjawab. Lalu aku melihat ibu meletakan
sendok dan membawa piring yang masih berisi makanan dan meletakannya di dapur
kemudian menghampiriku.
“Nak, apa kau yakin
ingin kuliah?” jawab ibu sederhana sambil memandang ke arahku. Yah, itu
kata-kata paling sederhana yang mungkin bisa dijawab oleh semua orang, tetapi
tidak denganku. Ketika ibu mengatakan hal tersebut satu hal yang terlintas
didalam pikiranku adalah “sanggupkah aku melukai hati ibu? apakah pertanyaanku
sudah membuatmu kehilangan nafsu makan bu? sampai kau tidak sanggup untuk
menghabiskan makananmu.”
Aku menyadari keadaan
ekonomi kami tidak memungkinkan untuk aku melanjutkan kuliah, karena ayahku
sudah tidak bekerja, tetapi aku bersyukur karena aku telah memiliki sosok
seorang ibu yang luar biasa! Yang rela mengorbankan apapun untuk kebahagiaan
anaknya sehingga membuatku merasa menjadi anak yang paling beruntung di dunia
ini karena telah dilahirkan olehnya. Aku anak ketiga dari tiga bersaudara, dan
dua saudaraku sudah berumah tangga dan memiliki seorang anak. Hanya ada ibu,
ayah dan aku yang sekarang menempati rumah tua itu.
Ibuku bukan seorang
yang berpendidikan tinggi, bahkan bukan seorang yang memiliki harta yang
melimpah, tapi ibuku seorang yang memiliki pengetahuan luas untuk membahagiakan
orang disekitarnya dan memiliki cinta yang melebihi harta katun untuk anaknya.
Hal itu ditunjukannya padaku ketika aku bisa meraih impianku karena do’a
seorang ibu. Ketika aku masih duduk dibangku SMA, ibu banting tulang untuk
membiayai sekolahku, setiap dini hari pukul 02.00 WIB, ibu sudah bergelut
dengan asap dapur untuk membuat gorengan yang paginya ibu jual kepada tetangga,
kemudian pukul 07.00 WIB ibu pergi ke pasar untuk membeli keperluan warung kami
dan siangnya ibu masih menyempatkan diri untuk memenuhi kewajibannya sebagai
seorang istri sekaligus ibu dengan memasak makanan untuk kami, ketika itu aku
selalu berfikir aku ingin menjadi sosok seperti ibuku, ibu yang luar biasa.
Waktu terus berjalan,
sehingga aku sudah menamatkan pendidikanku ditingkat SMA, saat itu usia ibuku
semakin tua tetapi ia masih melakukan aktifitas seperti biasa, saat itupun aku
mngurungkan niatku untuk melanjutkan kuliah dengan melihat keadaan ibu seperti
ini tetapi hatiku terasa miris ketika melihat teman-temanku sudah siap untuk
melanjutkan kuliah. Sempat aku mengurung diri dikamar karena perasaanku yang
membenci keadaan hidupku saat itu, kenapa Tuhan tidak memberikan aku kehidupan
yang lebih daripada saat itu dan kenapa Tuhan membiarkan aku menggantungkan
mimpi-mimpiku seperti itu?.
Ibu mengetuk pintu
kamarku berkali-kali, tetapi aku tidak mempedulikannya bahkan aku tidak
menjawab ketika ibu menyuruhku untuk membukakan pintu.
“Nak, kamu kenapa?
Sudah seharian kamu mengurung diri dikamar” aku tidak menghiraukan pertanyaan
ibu dan terus menutup kupingku dengan bantal.
“Nak, ibu masak makanan
kesukaanmu, apa kau tidak lapar? Nanti bisa sakit kalau tidak makan hari ini”
gumam ibu sambil terus mengetuk pintu kamarku.
“Pergi bu, aku tidak
lapar!” jawabku sedikit berteriak.
Aku masih membenamkan
tubuhku dikamar sampai pukul 22.30 WIB, aku tidak mendengar lagi suara ibu
mengetuk pintu kamar “ah mungkin ibu sudah tidur” pikirku dalam hati. Aku
bangkit dari tempat tidurku karena perutku terasa lapar, sudah seharian ini aku
tidak makan. Saat aku membuka pintu, aku terkejut, hatiku terasa perih ketika
melihat ibu tertidur disamping pintu kamarku dengan kupasan buah mangga
disampingnya. Aku melihat betapa ringkihnya tubuh ibu saat itu, “maafkan aku
ibu” gumamku dalam hati dengan air mata yang hampir menetes di pipi, sejak saat
itu aku memutuskan untuk bekerja setelah lulus SMA agar aku bisa membantu ibu.
Saat itu ayahku sedang
tidak ada dirumah, hanya tinggal aku dan ibuku yang berada dirumah, sedangkan
kedua kakakku telah berumah tangga. Aku mengambil piring yang berisi kupasan
mangga dan meletakannya dikamarku dan seketika itu ibu terbangun.
“Kau sudah makan nak?”
tanya ibu. Aku masih belum bisa menjawab, entah kenapa rasanya lidahku
tiba-tiba menjadi kaku, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat itu, aku
hanya bisa menundukan kepalaku tanpa berani untuk memandang ibu.
“ Apa kau masih marah
sama ibu nak? Apa kau benar-benar ingin kuliah?”
“Tidak bu, aku tidak
akan menginginkan itu lagi”
“Tapi nak, matamu
berkata lain, ibu tau kau menginginkan melanjutkan kuliah. Jangan berbohong
dengan ibu nak!”
“Maaf kan aku ibu, aku
terlalu egois hanya mementingkan diri sendiri. Sungguh bu, aku tidak pernah
marah dengan ibu, aku hanya benci dengan keadaan kita yang seperti ini!”
jawabku dengan suara parau.
“Apa yang kau sesali
nak? Apa kau membenci dilahirkan menjadi anak ibu? Sehingga kau bisa berkata
seperti itu? Demi Allah! ibu sangat menyayangimu nak, ibu sangat mencintaimu.”
Aku tidak bisa berkata
apa-apa lagi saat itu, aku hanya bisa menghambur kedalam pelukan ibu,
sebenarnya apa yang aku inginkan saat itu? Aku sendiri tidak begitu yakin untuk
hal itu.
“Ini nak, ini untukmu”
ibu menjulurkan satu buntel uang dari kantung bajunya.
“Untuk apa ini bu? Dan
dari mana uang ini bu?”
“Ini uang yang kakakmu
kirimkan untuk pengobatan ibu, tapi ibu menyisihkannya sebagian. Awalnya uang
ini ingin ibu tabung sedikit demi sedikit untuk berangkat haji, tapi ibu yakin,
kau sangat membutuhkan uang ini.”
Aku mengulurkan tanganku untuk mengambil
uang itu, yah uang itu berjumlah Rp 500.000 jumlah yang mungkin cukup sedikit
untuk biaya pergi haji, tapi ibuku, dia sangat berbeda, dia tidak pernah
menyerah untuk apa yang telah menjadi niatnya yaitu menyempurnakan ibadahnya
kepada sang Pencipta.
“Tidak bu, aku tidak
bisa menerima ini. Ibu simpan saja uang ini, ini uang dari kakak buat ibu”
jawabku.
“Tapi nak, bagaimana
dengan kuliahmu?”
“Aku akan baik-baik
saja bu, aku akan bekerja setelah lulus SMA dengan begitu aku bisa membantu ibu
untuk melunasi hutang-hutang dan menabung untuk berangkat haji. Satu lagi, aku
sangat mencintai ibu, karena ibu tidak pernah kehilangan kesabaran denganku.”
Ibu tersenyum mendengar
perkataanku dan ia langsung memelukku. Keesokan harinya, semua siswa kelas 3
yang ingin melanjutkan kuliah harus melakukan pendaftaran secara online, aku
hanya bisa berdiam diri dan duduk didalam kelas sementara yang lain menuju
laboratorium komputer.
“Fit, kamu tidak
mendaftar kuliah?” suara itu tiba-tiba mengagetkanku.
“Oh, ibu Nur. Tidak bu,
saya tidak berencana menndaftar kuliah” jawabku.
“kenapa tidak? Kamu
pandai dan nilaimu bagus, terlebih sekarang sudah ada beasiswa yang memberikan
biaya kuliah sampai kamu wisuda.”
“Benarkah bu?” jawabku
tidak percaya.
“Benar fit, tapi kamu
harus membayar biaya pendaftaran terlebih dahulu. Tapi, biaya itu nanti akan
kembali ke kamu ketika kamu sudah diterima.”
Sejenak aku berfikir,
tidak salahnya aku mencoba. Lalu bagaimana dengan biaya pendaftaran? Dari mana
uang itu bisa aku dapatkan? Pertanyaan-pertanyaan itu yang selalu berkecamuk
dipikiranku. Ketika aku masih berfikir tentang biaya pendaftaran, tiba-tiba
fani datang menghampiriku, dia menyodorkan beberapa uang lima puluhan ribu
padaku.
“Untuk apa ini fan?”
Tanyaku heran.
“Pakai uang ini untuk
mendaftar kuliah, aku yakin kamu sangat membutuhkannya”.
Akhirnya aku memutuskan
untuk meminjam uang dari Fani, yah suatu saat aku berjanji untuk
mengembalikannya. Hingga tiba saatnya pengumuman itu datang, aku diterima di universitas
yang aku impikan dan mendapatkan beasiswa yang aku inginkan. Mendengar hal itu,
ibu sangat bahagia, sampai ia bersujud syukur atas berkahNya yang diberikan
kepadaku. Namun, meskipun aku telah menerima beasiswa, aku harus membiayai
perjalananku menuju tempat kuliah dan biaya hidup disana sampai beasiswa yang
aku dapatkan turun. Ibu berusaha untuk mendapatkan biaya hidupku dari mulai
meminjam ke saudara (karena saat itu kedua kakaku tidak menyetujui aku untuk
kuliah) sampai ibu rela menjual sawah yang hanya tinggal berapa meter pada
tetangga demi impianku, anaknya. Akhirnya
dengan segala macam usaha, ibu mendapatkan uang untuk membiayaiku pergi
menuntut ilmu. Hatiku terasa berat ketika harus berpamitan kepada ibu, aku
tidak pernah berfikir sebelumnya jika harus jauh dari ibuku.
“Fan, aku pergi dulu.
Hutangku akan segera aku bayar” ucapku kepada Fani.
“Kau tidak perlu
mengembalikan uang itu fit, karena sebenarnya uang itu adalah uang yang ibumu
titipkan padaku. Beliau yakin bahwa suatu saat kamu akan membutuhkan uang itu,
hanya saja kamu terlalu enggan untuk menerima uang itu dari ibumu secara
langsung” jawab Fani.
Rasanya seperti ada
batu besar yang menimpa tubuhku saat itu, lidahku kaku dan kakiku terasa
gemetar. “ Tuhan, betapa Engkau baik kepadaku karena telah memberikan seorang
ibu yang luar biasa, ibu yang paling baik di dunia ini” gumamku dalam hati.
Seketika itu, aku langsung berlari memeluk ibuku, menangis tersedu-sedu.
“Ibu, maafkan aku,
maafkan atas semua kesalahanku, keegoisanku dan kenakalanku selama ini bu”
ucapku dengan tetesan air mata di pipi.
“Tidak nak, kau tidak
perlu minta maaf. Ibu yang seharusnya minta maaf karena belum bisa memberikan
secara sepenuhnya apa yang kau inginkan”
“Ibu adalah hal yang
paling sempurna dalam hidupku, ibu adalah hal terindah yang pernah aku dapat
selama hidupku dan jika aku harus menjalani hidupku lagi, aku akan tetap
memilih dilahirkan sebagai anak ibu” jawabku sambil terus menangis.
“Tidak nak, ibu yang
sangat beruntung memiliki anak sepertimu.”
Setelah itu, aku memutuskan untuk pergi
menuntut ilmu, meraih mimpi-mimpiku dan membahagiakan kedua orang tuaku.
Teman, jangan pernah
mengecewakan hati seorang ibu, karena ibu kita bisa menjadi dewasa, tertawa dan
bahagia. Ibu yang mengajarkan kita banyak hal dengan penuh cinta dan kesabaran, sudah sepantasnya kita mencintai ibu kita dengan sepenuh hati. Terimakasih ibu,
karena telah menjadi ibu terbaik di Dunia ini untukku. Aku mencintaimu.


