twitter



“ Ibu, aku ingin kuliah”.
Itulah kata pertama yang aku ucapkan padanya ketika kami sedang menyantap makan malam yang ibu sediakan tadi siang. Sejenak terasa hening, ibu masih bergelut dengan makanan yang ada dihadapannya.
“Ibu, aku ingin kuliah” ulangku lagi ketika ibu tak kunjung menjawab. Lalu aku melihat ibu meletakan sendok dan membawa piring yang masih berisi makanan dan meletakannya di dapur kemudian menghampiriku.
“Nak, apa kau yakin ingin kuliah?” jawab ibu sederhana sambil memandang ke arahku. Yah, itu kata-kata paling sederhana yang mungkin bisa dijawab oleh semua orang, tetapi tidak denganku. Ketika ibu mengatakan hal tersebut satu hal yang terlintas didalam pikiranku adalah “sanggupkah aku melukai hati ibu? apakah pertanyaanku sudah membuatmu kehilangan nafsu makan bu? sampai kau tidak sanggup untuk menghabiskan makananmu.”
Aku menyadari keadaan ekonomi kami tidak memungkinkan untuk aku melanjutkan kuliah, karena ayahku sudah tidak bekerja, tetapi aku bersyukur karena aku telah memiliki sosok seorang ibu yang luar biasa! Yang rela mengorbankan apapun untuk kebahagiaan anaknya sehingga membuatku merasa menjadi anak yang paling beruntung di dunia ini karena telah dilahirkan olehnya. Aku anak ketiga dari tiga bersaudara, dan dua saudaraku sudah berumah tangga dan memiliki seorang anak. Hanya ada ibu, ayah dan aku yang sekarang menempati rumah tua itu.
Ibuku bukan seorang yang berpendidikan tinggi, bahkan bukan seorang yang memiliki harta yang melimpah, tapi ibuku seorang yang memiliki pengetahuan luas untuk membahagiakan orang disekitarnya dan memiliki cinta yang melebihi harta katun untuk anaknya. Hal itu ditunjukannya padaku ketika aku bisa meraih impianku karena do’a seorang ibu. Ketika aku masih duduk dibangku SMA, ibu banting tulang untuk membiayai sekolahku, setiap dini hari pukul 02.00 WIB, ibu sudah bergelut dengan asap dapur untuk membuat gorengan yang paginya ibu jual kepada tetangga, kemudian pukul 07.00 WIB ibu pergi ke pasar untuk membeli keperluan warung kami dan siangnya ibu masih menyempatkan diri untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri sekaligus ibu dengan memasak makanan untuk kami, ketika itu aku selalu berfikir aku ingin menjadi sosok seperti ibuku, ibu yang luar biasa.
Waktu terus berjalan, sehingga aku sudah menamatkan pendidikanku ditingkat SMA, saat itu usia ibuku semakin tua tetapi ia masih melakukan aktifitas seperti biasa, saat itupun aku mngurungkan niatku untuk melanjutkan kuliah dengan melihat keadaan ibu seperti ini tetapi hatiku terasa miris ketika melihat teman-temanku sudah siap untuk melanjutkan kuliah. Sempat aku mengurung diri dikamar karena perasaanku yang membenci keadaan hidupku saat itu, kenapa Tuhan tidak memberikan aku kehidupan yang lebih daripada saat itu dan kenapa Tuhan membiarkan aku menggantungkan mimpi-mimpiku seperti itu?.
Ibu mengetuk pintu kamarku berkali-kali, tetapi aku tidak mempedulikannya bahkan aku tidak menjawab ketika ibu menyuruhku untuk membukakan pintu.
“Nak, kamu kenapa? Sudah seharian kamu mengurung diri dikamar” aku tidak menghiraukan pertanyaan ibu dan terus menutup kupingku dengan bantal.
“Nak, ibu masak makanan kesukaanmu, apa kau tidak lapar? Nanti bisa sakit kalau tidak makan hari ini” gumam ibu sambil terus mengetuk pintu kamarku.
“Pergi bu, aku tidak lapar!” jawabku sedikit berteriak.
Aku masih membenamkan tubuhku dikamar sampai pukul 22.30 WIB, aku tidak mendengar lagi suara ibu mengetuk pintu kamar “ah mungkin ibu sudah tidur” pikirku dalam hati. Aku bangkit dari tempat tidurku karena perutku terasa lapar, sudah seharian ini aku tidak makan. Saat aku membuka pintu, aku terkejut, hatiku terasa perih ketika melihat ibu tertidur disamping pintu kamarku dengan kupasan buah mangga disampingnya. Aku melihat betapa ringkihnya tubuh ibu saat itu, “maafkan aku ibu” gumamku dalam hati dengan air mata yang hampir menetes di pipi, sejak saat itu aku memutuskan untuk bekerja setelah lulus SMA agar aku bisa membantu ibu.
Saat itu ayahku sedang tidak ada dirumah, hanya tinggal aku dan ibuku yang berada dirumah, sedangkan kedua kakakku telah berumah tangga. Aku mengambil piring yang berisi kupasan mangga dan meletakannya dikamarku dan seketika itu ibu terbangun.
“Kau sudah makan nak?” tanya ibu. Aku masih belum bisa menjawab, entah kenapa rasanya lidahku tiba-tiba menjadi kaku, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat itu, aku hanya bisa menundukan kepalaku tanpa berani untuk memandang ibu.
“ Apa kau masih marah sama ibu nak? Apa kau benar-benar ingin kuliah?”
“Tidak bu, aku tidak akan menginginkan itu lagi”
“Tapi nak, matamu berkata lain, ibu tau kau menginginkan melanjutkan kuliah. Jangan berbohong dengan ibu nak!”
“Maaf kan aku ibu, aku terlalu egois hanya mementingkan diri sendiri. Sungguh bu, aku tidak pernah marah dengan ibu, aku hanya benci dengan keadaan kita yang seperti ini!” jawabku dengan suara parau.
“Apa yang kau sesali nak? Apa kau membenci dilahirkan menjadi anak ibu? Sehingga kau bisa berkata seperti itu? Demi Allah! ibu sangat menyayangimu nak, ibu sangat mencintaimu.”
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi saat itu, aku hanya bisa menghambur kedalam pelukan ibu, sebenarnya apa yang aku inginkan saat itu? Aku sendiri tidak begitu yakin untuk hal itu.
“Ini nak, ini untukmu” ibu menjulurkan satu buntel uang dari kantung bajunya.
“Untuk apa ini bu? Dan dari mana uang ini bu?”
“Ini uang yang kakakmu kirimkan untuk pengobatan ibu, tapi ibu menyisihkannya sebagian. Awalnya uang ini ingin ibu tabung sedikit demi sedikit untuk berangkat haji, tapi ibu yakin, kau sangat membutuhkan uang ini.”
Aku mengulurkan tanganku untuk mengambil uang itu, yah uang itu berjumlah Rp 500.000 jumlah yang mungkin cukup sedikit untuk biaya pergi haji, tapi ibuku, dia sangat berbeda, dia tidak pernah menyerah untuk apa yang telah menjadi niatnya yaitu menyempurnakan ibadahnya kepada sang Pencipta.
“Tidak bu, aku tidak bisa menerima ini. Ibu simpan saja uang ini, ini uang dari kakak buat ibu” jawabku.
“Tapi nak, bagaimana dengan kuliahmu?”
“Aku akan baik-baik saja bu, aku akan bekerja setelah lulus SMA dengan begitu aku bisa membantu ibu untuk melunasi hutang-hutang dan menabung untuk berangkat haji. Satu lagi, aku sangat mencintai ibu, karena ibu tidak pernah kehilangan kesabaran denganku.”
Ibu tersenyum mendengar perkataanku dan ia langsung memelukku. Keesokan harinya, semua siswa kelas 3 yang ingin melanjutkan kuliah harus melakukan pendaftaran secara online, aku hanya bisa berdiam diri dan duduk didalam kelas sementara yang lain menuju laboratorium komputer.
“Fit, kamu tidak mendaftar kuliah?” suara itu tiba-tiba mengagetkanku.
“Oh, ibu Nur. Tidak bu, saya tidak berencana menndaftar kuliah” jawabku.
“kenapa tidak? Kamu pandai dan nilaimu bagus, terlebih sekarang sudah ada beasiswa yang memberikan biaya kuliah sampai kamu wisuda.”
“Benarkah bu?” jawabku tidak percaya.
“Benar fit, tapi kamu harus membayar biaya pendaftaran terlebih dahulu. Tapi, biaya itu nanti akan kembali ke kamu ketika kamu sudah diterima.”
Sejenak aku berfikir, tidak salahnya aku mencoba. Lalu bagaimana dengan biaya pendaftaran? Dari mana uang itu bisa aku dapatkan? Pertanyaan-pertanyaan itu yang selalu berkecamuk dipikiranku. Ketika aku masih berfikir tentang biaya pendaftaran, tiba-tiba fani datang menghampiriku, dia menyodorkan beberapa uang lima puluhan ribu padaku.
“Untuk apa ini fan?” Tanyaku heran.
“Pakai uang ini untuk mendaftar kuliah, aku yakin kamu sangat membutuhkannya”.
Akhirnya aku memutuskan untuk meminjam uang dari Fani, yah suatu saat aku berjanji untuk mengembalikannya. Hingga tiba saatnya pengumuman itu datang, aku diterima di universitas yang aku impikan dan mendapatkan beasiswa yang aku inginkan. Mendengar hal itu, ibu sangat bahagia, sampai ia bersujud syukur atas berkahNya yang diberikan kepadaku. Namun, meskipun aku telah menerima beasiswa, aku harus membiayai perjalananku menuju tempat kuliah dan biaya hidup disana sampai beasiswa yang aku dapatkan turun. Ibu berusaha untuk mendapatkan biaya hidupku dari mulai meminjam ke saudara (karena saat itu kedua kakaku tidak menyetujui aku untuk kuliah) sampai ibu rela menjual sawah yang hanya tinggal berapa meter pada tetangga demi impianku, anaknya.  Akhirnya dengan segala macam usaha, ibu mendapatkan uang untuk membiayaiku pergi menuntut ilmu. Hatiku terasa berat ketika harus berpamitan kepada ibu, aku tidak pernah berfikir sebelumnya jika harus jauh dari ibuku.
“Fan, aku pergi dulu. Hutangku akan segera aku bayar” ucapku kepada Fani.
“Kau tidak perlu mengembalikan uang itu fit, karena sebenarnya uang itu adalah uang yang ibumu titipkan padaku. Beliau yakin bahwa suatu saat kamu akan membutuhkan uang itu, hanya saja kamu terlalu enggan untuk menerima uang itu dari ibumu secara langsung” jawab Fani.
Rasanya seperti ada batu besar yang menimpa tubuhku saat itu, lidahku kaku dan kakiku terasa gemetar. “ Tuhan, betapa Engkau baik kepadaku karena telah memberikan seorang ibu yang luar biasa, ibu yang paling baik di dunia ini” gumamku dalam hati. Seketika itu, aku langsung berlari memeluk ibuku, menangis tersedu-sedu.
“Ibu, maafkan aku, maafkan atas semua kesalahanku, keegoisanku dan kenakalanku selama ini bu” ucapku dengan tetesan air mata di pipi.
“Tidak nak, kau tidak perlu minta maaf. Ibu yang seharusnya minta maaf karena belum bisa memberikan secara sepenuhnya apa yang kau inginkan”
“Ibu adalah hal yang paling sempurna dalam hidupku, ibu adalah hal terindah yang pernah aku dapat selama hidupku dan jika aku harus menjalani hidupku lagi, aku akan tetap memilih dilahirkan sebagai anak ibu” jawabku sambil terus menangis.
“Tidak nak, ibu yang sangat beruntung memiliki anak sepertimu.”
Setelah itu, aku memutuskan untuk pergi menuntut ilmu, meraih mimpi-mimpiku dan membahagiakan kedua orang tuaku.

Teman, jangan pernah mengecewakan hati seorang ibu, karena ibu kita bisa menjadi dewasa, tertawa dan bahagia. Ibu yang mengajarkan kita banyak hal dengan penuh cinta dan kesabaran, sudah sepantasnya kita mencintai ibu kita dengan sepenuh hati. Terimakasih ibu, karena telah menjadi ibu terbaik di Dunia ini untukku. Aku mencintaimu. 

0 komentar:

Posting Komentar